• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Menghindarkan Anak dan Balita Kita dari Kekerasan Seksual

E-mail Print PDF

Menghindarkan Anak dan Balita Kita dari Kekerasan Seksual

Oleh Sarah Mellina

Pertengahan tahun lalu, Yayasan Kita & Buah Hati ada menyelenggarakan sebuah workshop parenting bertema “Membangun Keluarga Cinta.” Dalam workshop parenting ini juga dibahas mengenai serba-serbi kekerasan seksual pada anak yang membuat saya, tak sadar sampai bergidik ngeri.

Saat menyimak penyampaian pada workshop tersebut, saya sempat berpikir “mengapa ada orang yang tega melakukannya pada anak di bawah umur?”

Beberapa kali pula, berita-berita nasional, baik media elektronik ataupun media cetak yang memuat tentang aksi para pedofil,para pelaku kekerasan seksual pada anak di bawah umur.Untuk itu kita, para orang tua, sangat penting menghindarkan Balita dan anak kita dari kekerasan seksual.Karena, pelakunya bukan hanya dari orang-orang yang tak dikenal, namun tak jarang justru dilakukan oleh orang-orang dekatnya.Seperti yang banyak diberitakan, pelaku kekerasan seksual pada anak, justru diperoleh anak dari kerabat, tetangga, bahkan ayah tiri dan guru mengaji.

“Sebenarnya apa sih yang dimaksud kekerasan seksual pada anak?” tanya seorang sahabat saya saat saya menyatakan hendak berbagi tentang topik ini.

Kekerasan seksual pada anak adalah kegiatan atau aktivitas seksual yang dilakukan oleh orang dewasa atau oleh anak yang lebih besar, terhadap anak atau balita.Kegiatan tersebut bisa berupa, menunjukkan diri atau kemaluannya, membelai atau meremas-remas anak, serta melakukan pemerkosaan. Seperti yang diakui oleh Rudy (22 tahun), pada salah satu kasus pelaku kekerasan seksual pada anak yang sempat diberitakan media, menyampaikan bahwa ia mengenal seks sejak SD dari bibinya. Kemudian berlanjut saat SMA bersama pacarnya hingga terkena PMS (Penyakit Menular Seksual) karena berganti-ganti pasangan.

Mengerikan bukan, Bunda?Oleh karenanya, penting bagi kita mempersiapkan anak kita sedini mungkin.Bagaimana caranya? Nah, ada beberap cara yang bias dilakukan.

Pertama, Tingkatkan komunikasi dengan anak. Karena dengan komunikasi yang baik kita dapat membantu anak memiliki kesadaran dan ketajaman perasaan terhadap apa yang mungkin terjadi terhadap dirinya serta dapat meningkatkan harga serta kepercayaan dirinya.

Ajarkan anak untuk lebih waspada.Caranya, bisa dengan menceritakan kepada mereka peristiwa-peristiwa yang sering terjadi saat ini.Bisa saat duduk bersama, berdialog dengan buah hati.

Dalam berdialog, usahakan pula untuk mengontrol ekspresi wajah agar tetap rileks serta dengan nada suara yang lembut dan rendah.Jangan sampai, anak merasa seperti mendengar cerita horor atau cerita pembunuhan yang menakutkan.

Kita dapat menggunakan bahasa yang sesuai dengan usia dan kemampuan berfikir anak, sehingga tidak membuat mereka stress atau tegang. Hingga anak memiliki kesadaran dan ketajaman perasaan terhadap apa yang mungkin terjadi terhadap dirinya.Bukan menakut-nakuti anak.

Ajarkan pula, bahwa diri dan tubuhnya adalah sesuatu yang sangat berharga baginya, bagi kita dan bagi seluruh keluarga. Untuk itu ia harus menjaga dan memeliharanya dengan baik. Tingkatkan harga dan kepercayaan dirinya.

Terhadap anak, misalnya kita bisa menjelaskannya :

“ Tidak semua orang boleh menyentuh badan adek ya, terutama dari bahu sampai di atas lutut. Bagian ini hanya boleh disentuh oleh  : mama, ayah, dan mba Siti…”

Hal ini tidak susah bagi anak, karena mereka biasanya sangat sensitive dengan miliknya : “ Ini punyaku !:. “ Ini bonekaku, sepedaku, pensilku!”. Jadi mereka dengan mudah bisa diajarkan untuk merasa dan berani mengatakan :“ Ini badanku !’ Ini milikku !”

Katakan pada anak :

“ Jangan lupa ya sayang, ini badan adek yang paling berharga… Tidak sembarangan orang boleh pegang atau elus-elus badan adek ya, Ngerti kan ?”

Kedua, ajarkan pada anak jenis sentuhan dan cara bereaksinya.Menjelaskan sentuhan ini memang tidak mudah .Tapi karena situasi di sekitar kita sudah seperti ini, mau tidak mau kita harus berupaya untuk bisa melakukannya. Katakan pada anak bahwa orang yang menyentuh kita itu dapat digolongkan ke dalam 3 cara :

§ Sentuhan yang boleh, yaitu sentuhan yang dilakukan seseorang karena kasih sayang, misalnya mengusap, membelai kepala, membedaki badan.

§ Sentuhan yang membingungkan, yaitu sentuhan yang dilakukan antara menunjukkan kasih sayang dan nafsu. Misalnya mula-mula mengelus kepala, memeluk-meluk lalu tangannya meraba bagian tubuh dari bawah bahu sampai atas dengkul, yang telah kita ajarkan pada anak merupakan bagian yang tidak boleh disentuh orang lain.

§ Sentuhan yang jelek, yaitu kalau seseorang meraba-raba paha, dada atau bagian yang dekat dengan kemaluan.

Ketiga, ajarkan anak untuk mempercayai perasaannya.Anak-anak dibekali Allah dengan perasaan yang tajam sehingga dapat mengenali bagaimana perlakuan orang lain terhadapnya. Anda tentu tahu bagaimana perbedaan reaksi yang ditunjukkan anak yang anda sukai dan anak yang tidak begitu anda sukai. Mereka dapat merasakan perasaan anda bukan ?

Atas dasar itu, sebenarnya anak bisa kita ajarkan atau dilatih untuk memperhatikan dan mempercayai berbagai macam perasaan yang dialaminya bila ia berhadapan dengan orang lain. Apakah itu menyenangkan, membingungkan, atau menakutkan !

Dan hubungkan perasaan tersebut dengan sentuhan yang dilakukan orang tersebut terhadap anak. Kita bisa berulang kali mengingatkan anak :

“ Ada orang yang menyentuh atau mengelus-ngelus adek, coba adek rasakan : sentuhannya benar atau tidak, sentuhannya baik atau membingungkan adek? Kalau adek bingung atau takut terhadap sentuhan orang, perasaan adek itu benar. Jadi adek kasih tahu ibu ya… !”

Keempat, Ajarkan anak untuk mengatakan TIDAK, ENGGAK MAU, atau JANGAN BEGITU pada anak yang lebih besar atau orang dewasa yang berbuat tidak pantas padanya.

Selama ini kita mengajarkan anak untuk patuh pada orang dewasa lain, dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh yang lebih besar dari mereka. Sekarang kita harus pula menjelaskan kepada anak bahwa untuk keadaan tertentu (tergantung perbuatan orang tersebut dan pertimbangan perasaannya) anak boleh mengatakan : JANGAN BEGITU!, TIDAK , dan ENGGAK MAU pada orang dewasa atau anak yang lebih besar daripadanya, khususnya bila ia merasa perlu melindungi dan menjaga dirinya.

Bahkan kalau ia merasa terancam, kita perbolehkan anak untuk bersikap tegas, judes dan bahkan berbohong ! Misalnya kita katakan:

“ Kalau adek sudah bilang jangan pegang begitu’ tapi orang itu masih pegang-pegang dan ngelus-ngelus adek, adek bilang sama orang lain yang disekitar situ. Kalau terpaksa, adek boleh berbohong dengan bilang, ‘ aduh maaf ya om atau bang : aku mau pipis dulu, dan Adek lari ya,Nak !”

Anda bisa minta anak mencoba mengatakannya dan mengulangnya sampai mereka bisa.Usahakan anak terampil mengucapkan kata-kata untuk pembelaan dan perlindungan dirinya.

Kelima, yakinkan anak untuk bisa berbagi rahasia dengan kita.Seperti yang dituliskan Ifa Afiyanti dalam bukunya “Anakku Sahabatku”, hendaknya kita orang tua, juga adalah sahabat bagi anak-anak kita.

Karena kekerasan seksual dan perkosaan selalu dilakukan dengan bujukan dan ancaman, maka hal ini harus dijelaskan juga pada anak.Kita juga meyakinkan, bahwa kita sebagai orang tua adalah tempat dengan siapa anak bisa berbagi rahasia.

“Dek, biasanya kalau orang  yang mau nakalin atau jahatin anak-anak sebesar adek itu suka ngancem dan menjanjikan hadiah dan meminta untuk menjaga rahasianya. Jadi, kalau ada orang yang suruh adek begitu jangan percaya ya, Dek. Adek sama mama sangat dekat, dulu kan adek ada didalam perut mama, makan apa yang mama makan. Jadi kalau adek punya perasaan yang membingungkan dan menakutkan, mama-lah orang yang paling dekat dengan adek. Jadi adek cerita ke mama ya!”

Tentunya dengan ini, anda benar-benar harus mencerminkan sebagai orang yang memang bisa dipercaya.Sejak itu mulailah berbagi “ rahasia-rahasia kecil” yang bisa anda ciptakan dengan anak, agar anak terbiasa.Misalnya diam-diam bagi coklat dan tidak ikut dibagi dengan adiknya. “ Sssst ini rahasia diantara kita ya !”

Keenam, Kenalkan pada anak bedanya : orang asing, kenalan, teman, sahabat,  & kerabat.

Sejak kecil anak perlu dibiasakan untuk mampu mengenali dan melakukan penilaian terhadap orang di sekitarnya, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dengan mereka.

§ Orang asing : Adalah orang yang tidak kita kenal sama sekali. Tidak boleh terlalu beramah tamah dengan mereka, atau akrab dan langsung percaya. Kita harus selalu waspada dengan orang asing. Misalnya orang yang duduk disamping kita di bus atau di tempat tunggu.

Waspada bukan berarti berprasangka buruk.Kalau berprasangka buruk itu tidak boleh, tapi waspada itu justru perlu.

§ Kenalan : Orang yang kita kenal namanya, pekerjaannya, atau alamatnya. Tapi tidak lebih jauh dari itu. Misalnya tukang koran, tukang sayur dan lain-lain. Kita juga perlu berhati-hati karena tidak kenal dengan mereka secara mendalam.

§ Teman : Kita tahu lebih banyak tentang dia bahkan tahu sifat-sifatnya. Kita boleh bergaul lebih baik dengannya dan mempercayainya.

§ Sahabat :Lebih dari sekadar teman, kita sangat mempercayainya, tetapi tetap dalam batas-batas tertentu, tidak semuanya kita percayai.

§ Kerabat : Adalah anggota keluarga dekat, yang kita kenal betul. Tetapi tetap harus waspada juga. Bagi yang muslim, sejak dini kita harus memperkenalkan mana yang muhrim (seseorang yang kita tidak boleh nikah dengannya) dan mana yang bukan. Jadi anak tahu bagaimana bersikap terhadap mereka.

Ketujuh, nyatakan pada anak bahwa orangtua dan keluarga selalu melindungi dan menjaga mereka.Yakinkan pada anak bahwa orangtua dan keluarga dekat sangat menyayangi, melindungi, dan mendukungnya, apabila ia bertindak sesuai dengan apa yang dirasakannya untuk melindungi dirinya. Pernyataan seperti ini sangat diperlukan untuk memberi rasa aman dan kekuatan dalam diri anak.

Terakhir, genapkan ikhtiar dengan doa.

Sejauh mana kita bisa melihat, tangan bisa menjangkau, telinga bisa mendengar ? Selalu ada saat dimana kita lengah atau tidak mampu, bukan ? Setelah semua ikhtiar kita lakukan, selanjutnya adalah berdoa dan pasrah : semoga Allah melindungi anak dan keturunan kita dari bencana. Pada Allah jua lah kita berserah diri atas keselamatan diri dan keturunan kita.

Demikianlah ulasan dari Bunda Elly Rusman Psi beserta team Yayasan Kita dan Buah Hati, semoga bermanfaat bagi semua yang membaca. Seperti yang disampaikan oleh Bu Yuniza, “Karena tak ada sekolah untuk menjadi orang tua, oleh karenanya kitalah yang harus sadar dan mencari ilmunya!”

 

 

Top Menu


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

ARTICLE


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

Layanan Iklan POTRET

 

Polling

Bagaimana menurut anda POTRET Edisi 53?