Zubaidah Djohar:
Wujud Kemanusiaan Sang Penyair
Oleh: Maulidar Yusuf
Zubaidah Djohar, aktivis Perempuan Aceh yang saat ini menetap sementara di Canberra, Australia. “Saya ke Canberra karena misi kemanusiaan keluarga”, jelas Zubaidah Djohar yang juga kerap disapa Zhu atau penyair Zhu. Ibu dari dua orang anak ini mengaku bahwa perihal kepindahannya ke Australia disebabkan misi kemanusiaan keluarga, menurutnya aktivitas penguatan kemanusiaan itu tidak hanya lingkup ummat atau masyarakat, sebagaimana yang sering kita dengar saat ini. Tetapi, penyair Zhu ini menyatakan wujud nyata dari misi kemanusiaan itu dimulai dari keluarga dengan cara memperkuat kerangka keluarga, membangun kehidupan yang baik, menyiapkan pendidikan untuk anak-anak, membangun hubungan yang baik dengan keluarga. Zhu menegaskan bahwa hal ini semua harus dimulai dari lingkup terkecil, yaitu keluarga, karena keluarga adalah bagian dari pada ummat
Namun, tidak menjadi sebuah persoalan juga disaat ada perempuan memilih untuk berkerja diluar rumah atau sebaliknya. “Ketika ada orang yang memilih bekerja, mereka punya hak dan ketika ada perempuan yang memilih untuk mengurus rumah tangga saja, itu juga hak mereka. Hal tersebut juga termasuk politik, karena perempuan tahu apa yang dia mau, bisa memilih tanpa adanya paksaan dari orang lain” lanjut Zhu.
Dimana pun ranah yang dipilih oleh perempuan, baik itu domestik atau publik itu adalah hak perempuan, selama itu merupakan pilihan mereka sendiri tanpa dikontrol oleh orang lain. Itu juga pilihan, selama yang terbaik. Disaat perempuan tahu apa yang dia mau, itulah makna persamaan gender sebenarnya. Menurut Zhu, pemaknaan gender selama ini sering mengalami distorsi ditengah masyarakat. Banyak pemahaman gender yang salah, seperti pengharusan perempuan bekerja bersama laki-laki padahal mereka tidak merasa nyaman itu adalah pemahaman yang salah. “Sejauh yang say apelajari, makna gender itu adalah sebuah keharusan akan kemampuan perempuan menentukan haknya, tanpa ada paksaan”, tegas Zhu.
“Seperti saya, contohnya. Disaat saat saya memilih untuk bekerja diluar rumah, bukan berarti saya melupakan urusan rumah tangga” jelas Zhu yang selama ini turut mengambil andil dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Sebagai aktivis perempuan ia juga sedang melanjutkan Program Doktor dengan study by riset di University of Malaya dengan riset mengenai perempuan dalam mengontrol aktivitas perdamaian di Aceh. “Karena belajarnya by riset, nggak mesti selalu harus di kelas. Jadi punya waktu lebih untuk keluarga”.
Zhu yang dalam kesehariannya beraktifitas meneliti, membaca, dan menulis ini mengaku waktu yang paling rindukan adalah waktu bersama anak-anak dan keluarga. Ia juga sangat bahagia disaat anak pertamanya, Fayyaz Maulana Zain, menjadi president kelas di sekolahnya di Australia.
Bagi Zhu keberhasilan anak-anak juga tergantung bagaimana orang tua mendidik mereka. Tanggung jawab mengurus anak adalah tanggung jawab bersama, tidak ada keharusan perempuan saja yang harus mendidik anak-anak, karena ruang tidak pernah berjenis kelamin. Tidak pernah ada titah yang mengatakan ruang domestik berjenis kelamin perempuan. Namun, untuk membangun perdamaian, martabat, dan peradaban semua bisa terwujud justru karena kita sama-sama bergenggaman tangan bahu-membahu bersama-sama dalam kesetaraan dan keadilan, bersama-sama saling mendengar dan membagi.
Zhu melanjutkan bahwa tidak hanya perempuan yang memiliki dosa ketika tidak mendengar suaminya, laki-laki juga berkewajiban mendengarkan perempuan. Komunikasi yang tidak searah itulah yang paling penting dalam membangun perdamain, keadilan, dan peradaban.
Pada dasarnya kepatuhan hanyalah ada kepada Allah, dengan suami itu hanyalah hablumminannas, hubungan sosial. Begitu juga dalam mengurus anak, orang tua juga harus memerhatikan hak-hak anak. Jangan pernah kita mendisiplinkan tanpa kebebasan mereka, kita harus siapkan mereka untuk bertanya berfikir. Bukan cuma orang tua yang berinstruksi, hal ini juga harus didorong terhadap anak-anak, namun semua tetap dalam bingkai kemanusiaan. Itulah peran akal dan hati disini yang diberi Tuhan agar kita pandai menyingkapi setiap persoalan yang ada, jelas Zhu.
Selanjutnya untuk pembangunan Aceh saat ini sangat dibutuhkan berbagi peran dari kedua belah pihak, kita juga mengharapkan laki-laki mengisi ruang publik, bukan mengusir mereka ketika kita mengajak perempuan berpartispasi. Menjadi catatan penting bagi semua orang bahwa dalam membangun kehidupan tak ada batasan ruang, tegas Zhu.
Jum’at 3 Februari 2012, bertepatan dengan kelahirannya, Zubaidah Djohar mengadakan Launching Buku “Pulang Melawan Lupa, Antologi puisi Zu yang monumental dan isnpiratif itu diterbitkan oleh penerbit Lapena Banda Aceh. Launching buku yang berlangsung meriah tersebut dibuka langsung oleh Wakil Walikota Banda Aceh, Hj. Illiza Sa’aduddin Djamal, dilanjutkan dengan pemukulan rapa’I oleh Wakil Wali kota bersama Zubaidah Djohar,D. Kemalawati, Helmi Hass, L.K Ara dan lainnya. Dalam kesempatan tersebut Hj. Illiza Sa’aduddin Djamal juga turut memukau hadirin dengan pembacaan sebuah puisi karya Zubaidah Djohar.
Acara yang berlangsung di Jambo Kupi Apa Kaoy, Lampaseh tersebut turut dihadiri oleh aktivis, pecinta seni, dan masyarakat, termasuk diantaranya Handoko F. Zainsam yang juga hadir sebagai pembedah buku Pulang Melawan Lupa dalam acara tersebut. Penampilan Musikalisasi puisi oleh seniman muda Aceh debus perempuan juga turut memeriahkan acara tersebut yang kemudian ditutup dengan pembacaan pengumuman perlombaan membaca Puisi Pulang Melawan Lupa Penyair Zhu.
Buku Kumpulan Puisi Bisu ini adalah sebuah wujud kepedulian terhadap kenyaatan sosial yang terjadi di Aceh, bagi perempuan khususnya. Dalam pengantar buku tersebut Zhu menyatakan bahwa tak ada manusia yang tidak senang dengan damai, lega menghirup udara tanpa deru senjata, bermusafir tanpa cemas akan kontak senjata. Simaklah, salah satu puisi dari buku Pulang Melawan Lupa itu.
Lihatlah Wajah Generasi
Angka itu kian menjulang
Menggambarkan miskinnya pendidikan
Rendahnya asupan gizi para tunas
Beginikah mandat illahi kita jalankan?
Bukankah pesanNya
“jangan biarkan generasi dalam keadaan lemah,”
“lemah iman, lemah ilmu, lemah fisik”
Mengapa kita hanya menyematkan namaNya
dijalan-jalan
sedangkan amanahnya tidak pernah kita hiraukan
Waktu kita habiskan menjadi tuhan bagi orang lain
Mandat khalifah pun kita gadaikan
Lihatlah wajah generasi
Dengarkan nyanyian







