HIDUP BERGANTUNG PADA USAHA LOAK
Oleh Siti Aminah
Kontributor POTRET
Pagi masih buta. perempuan itu, sudah menunggu bis umum di depan rumahnya. Tepat di kampung Rimba Raya. Dengan membawa segoni pakaian dan tas mini terselempang di tangan kanannya. Wajah perempuan itu tak pernah sembab karena lelah, perjuangan untuk menjual kain loak tentu menjadi pekerjaan rutinitas sejak Enam bulan yang lalu.
“ Saya bekerja untuk membiayai keluarga saya, apalagi suami saya tidak bisa bekerja keras lagi” Ujar Yus saat bertemu di pasar pekan Simpang Balik Kabupaten Bener Meriah.
seorang perempuan yang mengantung kehidupannya dengan menjual pakaian loak itu, harus menjalani kegiatannya setiap rutin. Di setiap ada Pekan, maka ada Yus disana.
Yang disebut dengan pekan yaitu tempat penjualan pasar bebas di beberapa desa yang terpilih, yang menjadi tempat kunjungan masyarakat untuk bisa berbelanja lebih murah.Biasanya setiap hari sudah ada jadwal masing-masing desa, untuk ditempati para penjual yang akan berdagang sesuai dengan dagangannya. Ada yang menjual pakaian grosir dari Toko, Loak, dan juga berjualan seperti pasar ikan,dan jenis dapur lainnya.Hari senin sampai minggu, di Bener Meriah di penuhi dengan Pekan.
Yus, yang masih setengah baya itu, sudah tiba di tempat penjualan sejak pukul enam pagi.
“ Tergantung dekat atau jauh, kalau pekannya di Rakal, maka bangun pagi harus lebih awal, jika terlambat tak ada tempat lagi untuk berjualan” tambahnya.
Dalam mengembangkan usahanya sebagai loak, Yus mengambil obralan dari Matang. Di sana, dia dapat menyetor dan mengembalikan barang yang kurang laku di pasarkan. Tidak hanya pakaian loak yang ia tawarkan kepada konsumen, tapi ia juga membeli barang-barang baju antik seperti baju,jilbab, blanket, dengan penjualan secara kredit.
“ Dari hasil kredit itu, saya akan mendapatkan keuntungan lebih banyak, biasanya saya mengkreditkannya lima sampai enam bulan, tergantung jenis jualan saya. Kalau baju, tas, dan jilbab. Biasanya paling lambat tiga bulan. Sedangkan blanket itu berkisar enam hingga sepuluh bulan baru dapat terlunasi” katanya.
Penjualan secara kredit, tentu lebih menguntungkan. Keuntungan yang di peroleh yus bisa mencapai dua kali lipat dari modal dasar.
“Yang menjadi konsumen saya dari masyarakat Rimba Raya sendiri, karena rata-rata masyarkat di desa ini mengambil gaji dari hasil kebun. Jarang ada yang memperoleh gaji perbulan seperti PNS, dan juga pekerja kantoran” Tambahnya.
Terlihat sangat ramai pengunjung di Pasar loak di kawasan air panas tersebut. Beberapa pengunjung menuju kepada penjualan Yus. Disana, konsumen dapat memilih pakaian yang ia senangi. Kebanyakan dari mereka, hanya memilih dan memilah saja. Yus tetap menawarkan seyum sapa dan ramah tamah. Itu adalah motto bagi penjualan di manapun.
“ Biasanya, perhari saya mendapatkan uang seratus hingga dua ratus. Tergantung kepada banyaknya pembeli dan pengunjung. Jika ramai bisa mendapatkan uang lebih, ada juga yang sepi pengunjung hingga tangan kosong yang dibawa pulang” Keluh Yus sambil merapikan barang dagangangannya.
Yus, yang memiliki tiga anak itu, harus mengantungkan usahanya pada penjualan loak di pekan-pekan. Tak lain, hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan dan membayar sewa rumah pertahunnya. Penjualan loak dari pagi hingga siang saja, sepulang dari Pekan, Yus memilih untuk bekerja di tempat lain. Seperti, mencari ongkosan di kebun orang lain.
“ Dimana ada panen, kopi disana saya akan mememetik kopi, dengan bayaran sepuluh ribu rupiah per kaleng”.
Dari ketekunannya untuk mencari uang, ia tak pernah menolak ajakan dari orang untuk bekerja. Baik dalam hal rumah tangga, menyuci, menyetrika pakaian orang lain. Ia juga harus membagi waktu untuk mengurusi ketiga anak-anak yang masih duduk di bangku SD. Alhasil, hingga saat ini, ia masih eksis di dunia pekerjaannya.
Saat melihat kondisi tubuhnya, membayangkan pekerjaan Yus, seolah menjadi rapuh di sendi-sendi tulangnya. Bagaimana tidak, ia sebagai kepala rumah tangga. Bukan lagi Suami,
“ Suami saya, tak mau mengikuti jejak saya, ia hanya terdiam di rumah. Padahal kondisi tubuhnya sudah membaik. Ia berharap hanya saya yang menjadi tulang punggung dalam rumah ini,” Jawabnya, saat saya menayakan soal suaminya. Terlihat matanya mulai berkaca-kaca. Saya mengalihkan pertanyaan.
“ Tapi, sejauh ini. Belum ada tanda-tanda saya akan berhenti berusaha, demi anak yang akan menempuh pendidikan, aku siap untuk menjadi tulang punggung keluarga ini. Lagian, saya masih sangat mencintai suami saya. jadi, saya tak bisa memaksakannya untuk bekerja di luar, apalagi kondisi suami saya sering naik turun, alias sakit” ujarnya.
Berawal dari modal sedikit, sebagai penjual kain loak, kini ia beralih menjadi penjual kain yang tergolong bagus, meskipun ia ambil dari grosiran di daerah matang.
Tak heran, di desa Rimba Raya, banyak perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga. Tak hanya Yus, sebagai penjual kain loak, tapi nek gendong yang sudah berumur, masih kuat untuk mencari nafkah demi menghidupkan keluarganya.
Salah satu jalan mencari uang disana, dengan makan upah dari hasil ongkosan kopi orang kaya. Setiap hari mendapatkan dua puluh ribu, sudah mencukupi untuk membeli kebutuhan primer rumah tersebut.“Kalau tidak punya anak, ya beginilah usaha yang harus kita tempuh, dan tidak ada istilah berhenti untuk mencari uang. Jika terhneti artinya membiarkan perut sendiri kelaparan” Ujar nek gendong dengan logat jawanya yang terlihat masih kental.
Perempuan-perempuan daerah dataran tinggi Gayo, hampir rata-rata memiliki usaha sendiri, selain mengerjakan tugas sebagai istri, juga beralih profesi sebagai pencari nafkah. Salah satu yang bisa menjadi contoh nek gendong dan Yus, kedua-duanya memiliki jalan yang berbeda dalam mencari uang. Mereka dapat dijadikan sebagai contoh yang baik bagi perempuan-perempuan lain, baik di desa maupun tinggal di kota.
“ Saya berharap, dengan usaha saya ini, dapat membeli tanah untuk membangun rumah sendiri, meskipun rumah papan. Saya merasa sangat senang” Harap Yus untuk menuai masa depannya sebagai penjual kain loak.




















