Sebuah Senyuman
XII-Ia.3 SMA Negeri 11 Banda Aceh
Kenangan pahit tertoreh dengan tinta berwarna hitam di dalam buku diaryku dengan rapi. Telah lama kisah pahit ini terjadi padaku, namun bukan aku sebagai pelakon utamanya. Bisa dikatakan, tepatnya ini kisah sahabatku.
Bukan maksud hatiku untuk diam tentang dirinya, tapi aku seorang yang tak mengerti akan isi hatinya. Aku seorang yang tak mampu memahami benar perasaannya itu. Kepedihan hatinya tak dapat ikut kurasakan, namun aku dapat mengerti desah nafas masalahnya.
Tepat siang itu, rinaian air mata saling berjatuhan menumpaskan segala keluh kesah yang kami hadapi. Dalam pelukan itu aku menyadari akan satu hal yang sangat penting. Ternyata Allah memberikan sebuah cobaan untukku sesuai dengan apa yang aku sanggupi, sebuah cobaan yang ternyata masih ringan jika dibandingkan dengan dirinya. Aku merasa malu, untuk apa kutangisi hal yang sepele dan ringan itu. Dan satu hal yang kudapatkan lagi darinya, bahwa dalam setiap cobaan itu harus dihadapi dengan kesabaran.
Sahabatku, untuk pertama kalinya aku melihatmu menangis. Untuk sekian tahun baru sekarang akumelihatnya. Kau selalu semangat menjalani harimu, namun hari ini kau hadir tepat di depanku dengan wajah sedih. Aku tahu kamu pasti tak sanggup lagi menahan sakitnya derita itu. Karena aku mengerti segelintir tentang dirimu, kamu adalah orang yang kuat. Seberapa banyak cobaan yang kamu hadapi dapat kamu lewati dengan sabar.
“Aku tak kuat Rania.... Aku benci dengan dirinya!!!” tangisnya cukup menyayatkan hatiku. Aku terdiam mendengarkannya. Setelah tangisku mereda akan masalah yang kuderaitu, tiba air mataku berjatuhan lagi akibat ceritanya.
“Aku tak kuat....” berkali-kali Karana berkata begitu padaku. Suaranya yang tegas terdengar lemah dan bergetar. “Aku ingin lari dari rumah itu. Ini sudah keterlaluan. Dia sangat berubah sekarang semenjak tinggal di sini…” Terlihat dirinya sangat lemah sekarang.
Untuk kali ini aku dapat merasakan dan mengerti akan isi hatinya. Karena aku tak berbeda jauh dengannya.
Sebuah keharmonisan keluarga tentunya semua orang sangat menginginkannya, adanya kebahagiaan, dan kasih sayang yang tercipta dalam keluarga. Namun kebahagiaan yang dia impikan tidak berpihak padanya. Dan tadi malam terjadi sebuah hal yang hebat dalam hidupnya, sebuah keributan dalam keluarga yang tak pernah diharapkannya. Karana terus menangis pilu dan aku pun ikut menangis dengannya.
“Jika aku punya keberaniaan, aku pasti sudah membawa Ibu pergi dari rumah itu...” dengan nada terputus-putus Karana terus bercerita.
Dapat kurasakan hatinya yang galau dan penuh ketakutan terlukis di matanya.
Siang yang semakin menurun dengan diiringi waktu yang terus berjalan dengan cepat.Tangis Karana telah mereda, aku hanya bisa memeluknya dalam diam. Tampak Karana telah lebih baik dari yang tadi. Walau hatinya masih galau, namun dirinya tampak sudah baikan.
Ingin aku memberikan sebuah kata-kata yang dapat memotivasi dirinya seperti layaknya orang-orang yang memberikan kata-kata penyemangat hidupun tuk sahabatnya ketika didera masalah. Namun aku tak mempunyai kata-kata yang indah untuk diucapkan. Maaf sahabatku, aku tak pandai untuk berkata-kata dengan indah. Sebuah senyuman inilah yang dapatku berikan untukmu. Sebuah senyuman yang dapat memberikan penyemangat dalam hidup setiap orang. Dan sebuah senyuman terindah yang kuberikan untukmu, sahabat☺☻
*Teruntuk sahabatku*




















