Antara Aku, Andi dan PUNK
Oleh: Cut Meutia
Penulis Ibu Rumah Tangga, Tinggal Di Limpoek
Udara dingin menghembus, membeku menusuk hingga ke tulang sumsum. Malam yang semakin pekat nan redup tidak menjadikan anak-anak muda yang berada di sudut kota di kawasan Lampinenung Banda Aceh menghentikan aktifitas mereka. Entah apa yang diperbincangkan, entah apa yang diperdebatkan, tidak semua masyarakat di sekitar mengetahuinya.Bukan saja tidak tahu, tapi lebih dari itu, berbagai cemoohan dan rasa tidak respek semacam cibiran terus saja dipamerkan oleh warga sekitar.
“ Mereka kumpul kebo!”.
“Mereka tidak pernah shalat!”.
“Mereka komunis!”.
Itulah tudingan masyarakat terhadap sekelompok anak muda yang selalu berkumpul di rumah sederhana di sudut kota Banda Aceh, tepatnya di kawasan Lampinenug.Tudingan itupun diperkuat oleh sekelompok mahasiswa yang konon menganggap GankLampineung sebagai lawan politik mereka. Tidak shalat, komunis, kumpul kebo menjadi isu tersendiri bagi mahasiswa yang menganggap GankLampineug saingan mereka dalam melakukan pencintraan di hadapan masyarakat.
Akupun tidak pernah mengerti, kenapa mereka marah terhadap sekelompok anak muda tersebut. Padahal menurut ketua kelompok Gank lampinenung, mereka hanya sekelompok mahasiswa yang memiliki komitmen untuk melakukan sebuah gerakan sosial.Apakah karena mereka sering mengibarkan bendera yang berwarna merah? Atau karena cara mereka berpakaian yang serba awut-awutan dengan penampilan tak terurus layaknya anak jalanan, atau karna mereka sering mengangkat tangan kiri ketika melakukan aksi-aksi demontrasi?. Entahlah, akupun sangat awam tentang itu semua, yang pasti masyarakat selalu mencemoohkan Gank Lampinenung.
Kebetulan, kamar kosku berdekatan dengan tempat mereka mangkal. Suatu sore aku sempatkan diri untuk bertanya sambil duduk di depan pagar sekretariat Gank Lampinenug dengan beberapa orang anggota Ganknya.
“kenapa kalian mengangkat tangan kiri?”.
“kenapa kalian mengatakan diri kalian kiri?”
Diantara empat orang anak Gank, aku menemukan jawaban yang berbeda dari keempatnya. Si kurus kerempeng yang memiliki rambut lurus panjang tak terurus yang sering mereka panggil dengan nama Baong menjawab, “ kami sosialis, sosialis itu kiri, orang kiri itu mau hidup sama rata sama rasa”. Lebih kurang seperti itulah jawaban Baong. Terus yang rambutnya kriwil-kriwil seperti tidak pernah tersentuh oleh benda yang bernama sisir itu menjawab, “ kami anti militer”, kami pengikut marxis, karena Marxis itu kiri makanya kamipun harus angkat tangan kiri”. Begitulah penjelasan si kriwil. Si perempuan satunya lagi yang berjilbab hitam berbaju kemeja dilengkapi jeans lusuh tak terurus itu menjawab” yang pasti Marxisme-Leninisme inti ajaran atau ideologi kami, kami anti kapitalis!.
Aku semakin bingung dengan mereka. Ideologi apaan itu Marxixme-Leninisme? Belum pernah aku mendengarnya, apa itu komunisme ,apa itu sosialisme. Yang aku tahu komunis itu adalah PKI yang sangat dibenci oleh masyarakat Indonesia, tapi aku hanya diam mendengar jawaban mereka. Pemahamanku terhadap mahasiswa GankLampineugsebenarnya tidak jauh-jauh berbeda dengan pemahaman masyarakat lainnya, bagiku mereka sekelompok mahasiswa aneh.
Sudah hampir dua jam aku duduk dan berbincang dengan mereka, namun belum satupun bahasa mereka bisa aku fahami. Merekapun terus saja menjelaskan semuanya tentang ideologi yang mereka imani kepadaku, dengan harapan aku akan bergabung dengan Gank mereka.Namun, sayang aku tipe mahasiswa yang tidak doyan beroganisasi.
Menikmati hidup dengan fasilitas yang serba berkecukapan seperti ini terasa sangat merdeka bagiku, tanpa ada tanggung jawab kelompok yang harus aku pikul. Ketika Gank Lampineung ramai-ramai terjun kelapangan untuk melakukan aksi demontrasi, ramai-ramai mengkritik negara, aku tetap tidak peduli, yang penting bagiku, IPK harus diatas 3, 5 sekian. Aku tidak mau ikut-ikutan seperti mahasiswa Gank Lampinenug itu, masa depan tidak jelas, masa remaja dicemoohkan.
Ketekunanku tidak sia-sia, aku bisa menyelesaikan kuliah dalam kurun waktu empat tahun setengah dengan IPK cumlaude. Alhamdulillah Omku masih bertugas sebagai kepala Dinas Kehutanan, jadi sangat mudah bagiku lulus sebagai PNS di Dinas tempat Omku bertugas. Aku sangat menikmati pekerjaanku sebagi PNS, karena PNS memang cita-citaku sejak kuliah, berbeda dengan Andi, sahabatku yang sekarang bekerja seatap denganku.
Ketika bertemu Andi di sini, aku terheran-heran dan bingung, kenapa Andi bisa jadi PNS? Aku heran dan seperti tidak percaya, karena dulunya Andi adalah mantan ketua Gank Lampinenug. Tidak mungkin GankLampineug mau menjadi PNS.
“Dunia berputar sob!..
Begitu kata Andi suatu hari ketika dia menjawab kebingunganku.
Mentari pagi begitu cerahnya, menyinari wajahku dan Andi yang sedang menikmati kopi pagi di Solong Ulee Kareng. Kopi dan koran dua hal yang tidak pernah dilupakan oleh Andi. Tiba-tiba Andi berkata sambil memperlihatkan isi koran dengan judul “Anak PUNK dibina Di SPN Seulawah”.
“Punk itu persis seperti diriku tempo dulu”.
“ Persis diriku ketika remaja dulu, ketika aku masih dianggap sampah oleh sebagian masyarakat karena gaya hidup dan caraku berbusana. Waktu itu aku tidak peduli mau dianggap sampah kah, mau diaanggap malaikat kah. Yang penting hatiku selalu berbunga. Sepertinya tidak ada yang mampu menghalau indahnya masa-masa remaja, masa-masa yang sangat indah untuk dinikmati, hari-hari yang tak kenal istilah tidak boleh, tidak peduli dengan intikat masyarakat sekitar. Usia yang tak mengenal istilah jemu dalam mengarungi hidup,usia yang rentan dengan hegemoni alam sekitar, cenderung mengikuti arus, sok tau dan seakan mampu memahami detailnya masa depan.Itulah masa remaja, ya..aku rasa kamu juga faham bagaimana masa remaja, karena kita pernah sama-sama muda, dan kita juga pernah bertemu ketika remaja dulu.. Andi bergumam sambil terus mengikuti huruf demi huruf yang menghiasai lembaran buram dalam genggamannya.
Lihatlah! mereka bicara sosialis! tetapi gaya hidup liberalis. Berbicara sosialis,, tetapi mempraktekkanakar dari kapitalis. Entahlah, aku sendiri tidak begitu faham dengan ideologi PUNK itu, Andi mengomentari isi koran yang sedang dibacanya.Jika seperti ini realitas yang terbaca dari pribadi para Punkers, aku yakin suatu hari nanti ketika kesadaran akan ketidakfahaman atas apa yang sedang mereka praktekkan datangmereka akan berpaling. Mereka pasti akan meninggalkan gaya rambut mohawk, tindik, rantai, jalanan, udara malam, baju hitam, celana lusuh dan segala atribut kebanggannya saat ini.
Lebih-lebih ketika usia semakin dewasa, saat kalbu telah mampu memaknai arti dari tetesan air mata bunda. Apapun yang telah dibangun bersama teman-teman dekat akan runtuh dengan sendirinya ketika air mata seorang ibu berhadapan langsung dengan keyakinan yang telah kita imani, keyakinan yang sangat berseberangan dengan keyakinan ibu-ibu kita.
“Sob, tau tidak? Kenapa aku bersedia menjadi PNS?” Tiba-tiba Andi bertanya kepadaku.
Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, Andi telah melanjutkan ceritanya.
“Aku meninggalkan organisasiku dan mau menyelesaikan kuliah serta rela menjadi PNS karena tetesan air mata ibuku. Aku tidak rela melihat air mata tua ibuku selalu berlinang kerap kali beliau berkunjung ke Banda Aceh untuk menjengukku. Ibu menaruh harapan besar padaku, karena aku satu-satunya anak laki-laki ibu. Ibu tidak mau hidupku sia-sia, walaupun ibu selalu bilang, masa depanku ada ditanganku sendiri dan rezeki itu Tuhan yang mengaturnya. Tapi ibu sangat tidak senang melihat rambut panjangku yang tidak terurus, baju yang jauh dari kesan bersih. Setiap kali ibu datang ibu selalu bertanya, bagaimana aku bisa melaksanakan shalat lima waktuku kalau badan dan pakaianku tidak bersih. Ibu akan menangis ketika beliau tau aku sering meninggalkan shalat wajibku. Sungguh sobat! Menatap keruhnya mata bening ibu adalah hal yang sangat menyakitkan bagiku.
Suatu hari ibu pernah berkata.
“Kalau kamu tidak mau menyelesaikan kuliahmu, tolong! sekali ini saja kamu dengar ibu. Jangan kamu tinggalkan shalat lima waktumu. Tinggalkan kehidupanmu yang urak-urakan seperti itu. Ibu tidak memaksa kamu untuk menyelesaikan kuliahmu”.Dengan suara yang terdengar sangat berat ibu memohon padaku, aku tahu ibu sangat kecewa dan sangat terpaksa mengeluarkan kata-kata tersebut.Dengan air mata yang telah beranak sungai ibu melangkah meninggalkan kamar kosku. Sepertinya ibu sudah putus asa melihat kondisiku, kaki tua itu terus saja melangkah. Tanpa sekalipun menoleh kebelakang. Seakan ingin berkata, jalani hidupmu sesuai dengan kehendakmu, ibu sudah lelah dan letih. Tangisan yang sejak tadi ditahannya, kini jatuh satu persatu membasahi tanah peradaban yang akan terus ditelusurinya sepanjang usia ibu.
Sungguh Sob! Begitu tidak berharganya aku telah membuat ibuku menangis, telah membuat ibuku terluka. Begitu bejatnya aku sebagai seorang anak yang telah dilahirkannya. Ingin aku memaki diriku sendiri ketika mengingat masa silam itu. Sangat tidak bergunanya aku, telah menyakiti seorang perempuan yang tidak pernah menyerah di bawah teriknya matahari, tidak pernah berhenti di tengah gemuruh petir dan lebatnya guyuran hujan, demi keberhasilan dan masa depanku.
Ibuku seorang perempuan cantik. Kecantikannya terlihat begitu nyata di balik senyum khasnya yang begitu iklas. Kesibukannya menggarap sawah peninggalan ayah demi kesuksesan anak-anaknya telah menjadikan wajah cantiknya keriput dan tidak terurus. Wajah tegar itu hampir tidak pernah tersentuh oleh benda-benda yang bernama kosmetik. Ibu telah mengorbankan separuh hidupnya demi aku dan kakakku. Kesuksesan kami itulah kebahagiannya.
Ibuku singgle parent. Ayah meninggal ketika usiaku 12 tahun,waktu itu aku masih duduk di bangku SD kelas 6. Sejak itulah aku tidak pernah lagi merasakan kehangatan seorang ayah, namun perhatian ibu tidak menjadikan aku kehilangan ayah sepenuhnya. Ibu telah memberiku segalanya yang terkadang tidak bisa didapat oleh anak-anak dari keluarga yang memiliki orang tua lengkap. Walaupun ibu seorang petani, tapi ibu mampu menyekolahkan aku dan kedua kakakku hingga menjadi sarjana. Kini kakak sulungku berprofesi sebagai perawat. Kakak yang kedua sebagai kepala SMA di kecamatanku, dan aku sendiri bekerja disini bersamamu.
Suatu hari di bulan Ramadhan ibu menelfonku, meminta aku untuk pulang karena kondisi ibu sedang sakit. Dengan sangat terpaksa akupun pulang, kutinggalkan aktifitas sosial kemasyarakat yang sudah menjadi aktifitas rutin organisasiku kerap kali Ramadhan datang. Ada yang lain dengan diriku setelah dua minggu menghabiskan waktu berbuka dan sahur bersama ibu dan kedua kakakku, kasih sayang kakak dan rasa pedulinya kakak terhadapku menjadikan aku enggan kembali ke Banda Aceh. Di hari ke- 27 Ramadhan, kondisi ibu mulai membaik dan ibu sangat senang melihat perubahanku.
Di bawah asuhan tangan lembut kakak, baju-bajuku selalu wangi dan tersusun rapi di lemari. Hanya dalam waktu dua minggu, kebersamaan dan kasih sayang tiga orang perempuan telah membawa aku kedunia yang jauh berbeda dengan dunia organisasiku. Mereka adalah perempuan-perempuan kuat yang pernah aku jumpai dalam hidupku, ibu dan kedua kakakku. Kami tumbuh besar dan dewasa tanpa campur tangan seorang laki-laki. Perempuan-perempuan itu telah mengantarkan aku menjadi seorang PNS dengan jabatan yang setingkat lebih tinggi dari dirimu, sambil tersenyum Andi melirik kearahku.
Aku yakin, suatu hari ank-anak PUNK inipun akan berubah. Kedewasan kita, umur kita akan menentukan setiap langkah kita.Peran orang tua, kasih sayang dan perhatian keluarga sepertinya tidak bisa dihindari dalam kehidupan seorang anak yang masih berada diusia belia. Andi melanjutkan kisahnya.
Kedewassan itu pula yang telah meyakinkan aku, kalau perlawanan itu tidak mesti dilakukan dengan cara memarginalkan diri.Usia telah menjadikan aku yakin semua ideologi dapat disadingkan dengan budaya setempat. Mengarungi hidup butuh strategi, banyak cara yang bisa dilakukan untuk melakukan perlawanan. Bukankan tujuan kita adalah melawan ketidak adilan Negara? Maka lawanlah dengan strategi yang mampu menarik simpati masyarakat setempat,bukan strategi yang malah membuat masyarakat muak!
Alih-alih mau melawan Negara akhirnya masyarakat setempat ikut-ikutan menjadi musuh yang harus dilawan, Mayoritas masyarakat juga tidak faham dengan gaya hidup dan ideologi serta strategi perlawanan kita, sehingga mereka akan cendrung mengikuti sang penguasa untuk bersama meberantas manusia-manusia yang hidupnya sangat tidak sesuai dengan adat istiadat yang mereka yakini.
Dulu aku juga seperti para Punker saat ini, dicaci, dimaki, dikucilkan, namun aku tidak peduli.Waktu itu apapun kata orang selain dari komunitasku, semuanya tidak benar. Ketika aku tumbuh dewasa, aku baru mengerti. Tidak semua yang aku fahami dimasa remaja semuanya benar. Aku baru menyadari ternyata sosialisme itu tetap bisa dijalankan dibalik jas dan dasi, dibalik sarung dan peci, dibalik kesopanan dan kelemah lembutan sang priayi, yang penting hati dan komitment dari diri kita pribadi.
Matahari semakin meninggi, aku dan Andi meninggalkan warung kopi Solong untuk melanjutkan pekerjaan di kantor. Andi sekarang sangat berbeda dengan Andi 10 tahun silam. Andi sekarang dikenal sebagai PNS yang sok suci karena tidak pernah mau menerima imbalanselain uang dari gaji wajibnya. Hampir tidak pernah Andi menerima tawaran atasan untuk pergi mengikuti pelatihan atau study tour ke daerah-daerah di luar Aceh. Menurut Andi, dia bisa membaca dan melihat perkembangan daerah-daerah lain melalui internet. Tidak perlu menghabiskan uang negara untuk jalan-jalan, padahal PNS lain akan rebut-rebutan jika ditawarkandinas keluar kota. Dinas keluar kota selain bisa dijadikan agenda untuk jalan-jalan, juga akan memperoleh uang insentif dan biaya perjalanan dinas yang jumlahnya tidak sedikit.
Tiga tahun sudah aku bergaul dengan Andi. Sering aku tersipu malu di depan Andi ketika kepergok sedang menerima amplopyang tidak jelas asal muasalnya. Padahal Andi tidak pernah melarang dan menyentil sikapku tersebut. Ketika teman-teman seangkatan kami sudah meninggalkan motor butut mereka dan beralih pada mobil pribadi, Andi masih setia dengan motor supra Xnya. Mungkin dengan sikap seperti itulah Andi mencoba melawan kebobrokan Negara ini. Entahlah, yang aku tahu Andi salah satu karyawan yang unik, pintar, kreatif, walaupun ramai PNS menganggap Andi sok suci, tapi bagiku Andi manusia jujur dan memiliki harga diri.
“ Andi selalu bilang.”
Ibuku memberi makanku dari hasil keringatnya sendiri, dari rezeki yang halal, dari serat kuku seorang janda yang selalu bermimpi agar kelak kami bisa menyatu kembali di surga yang abadi”. Tidak pantas aku menodai cita-cita suci ibuku dengan mencampur adukkan darah suciku dengan makanan yang aku peroleh dari hasil yang tidak jelas asal muasalnya.
Melihat Andi terkadang membuat aku malu pada diriku sendiri, kenapa dulu aku sempat berfikir Andi anak muda yang aneh dan tidak jelas masa depannya?. Sangat tidak pantas aku menilai orang lain dari kulit luarnya saja. Kenyataan hari ini, Andi lebih bermartabat dibandingkan pribadiku yang dikenal alim, lugu dan santun di depan masyarakat ketika remaja dulu. Dari pribadi Andi sedikit demi sedikit aku mulai belajar cara menghargai dan cara menilai kehidupan sesama, termasuk cara pandangku terhadap anak-anak PUNK yang sekarang dianggap hama oleh sebagian besar masyarakat.
Andai saja aku punya kemampuan, aku akan berkata kepada pemerintah dan masyarakat disekelilingku, bahwa Anak PUNK itu juga anak muda yang butuh ruang untuk mengekpresikan kehendak mereka. Tapi sayang aku hanya pegawai biasa layaknya para pegawai lainnya yang tidak begitu faham dan cenderung tidak mau peduli dengan kondisi disekitarku, biarlah semua berjalan apa adanya, biarlah waktu yang akan memutar balikkan segalanya ketika masanya tiba.



















