• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Mencari Ayah

E-mail Print PDF

Mencari Ayah

Oleh Mahdi Idris

 

Hujan sudah berhenti. Air tergenang sebatas tumit, mengalir pelan mencari celah-celah hamparan tanah yang rendah. Hawa dingin menggerinyai tubuhku. Bibirku kaku, bergetar seirama tubuh yang menggigil. Sambil memeluk tubuh, pikiranku masih mengambang pada sosok lelaki tua yang kulihat tadi petang. Aku bertemu dengannya di sebuah pasar. Sekilas kami sempat bertemu pandang. Hanya sekilas, di balik topi pandan yang ia kenakan itu sempat kulihat ada bekas luka sebesar dua jariku di pipinya sebelah kanan. Aku kehilangannya ketika hujan turun satu jam lalu. Aku berteduh di depan toko ini dan ia terus berjalan di sepanjang trotoar. Sampai hujan berhenti aku tak melihat tubuh renta itu lagi. Aku menerka bahwa lelaki itu berteduh pada suatu tempat yang agak jauh dariku. Atau mungkin saja ia tak berteduh di mana pun, tapi terus saja berjalan sekehendak hati meski hujan deras mengguyur tubuhnya.

Dengan malas dan lesu aku bangkit, berjalan menelesuri emperan toko. Belum ada tujuan pasti di mana seharusnya aku berhenti saat malam tiba. Dengan baju kaos oblong tipis bertuliskan sebuah nama partai politik yang kukenakan itu tak mampu menahan desir angin yang menusuk sampai ke tulang sum-sum. Tubuhku semakin menggigil. Tapi, pikiranku terus saja tertuju pada lelaki itu. Sebuah tanda bekas luka di wajahnya, yang dikatakan ibu, membuatku semakin yakin bahwa dialah ayahku yang menghilang suatu malam, dua puluh tahun lalu. Namun aku tak mampu mengingat bagaimanakah sesungguhnya wajah ayahku. Hanya dari ibu yang kutahu bahwa ayahku dibawa segerombolan orang tak dikenal saat terjadi konflik bersenjata antara kaum gerilyawan dengan tentara pemerintah di daerah kami, ketika umurku masih lima tahun.

***

Ketika aku berusia delapan belas tahun, ibu pernah mengatakan padaku sekali waktu, “Suatu saat nanti pergilah mencari ayahmu. Ibu yakin dia masih hidup.” Namun aku terdiam. Dalam hati kecilku berkata, “Kalau ayah masih hidup, kenapa ia tak pernah pulang.”

Itulah awal mula mengendus kebencian pada ayah. Setiap kali ibu menyebut ayah, ingin kututup telinga, kubuang jauh bayangannya. Apalagi wajah ayah tak mampu kuingat sama sekali. Aku hanya memiliki seorang ibu, yang saban waktu bersamaku, tiada yang lain. Ayah kuanggap tak pernah ada bagiku. Kelahiranku ke dunia ini hanya sebuah takdir bagi perempuan, yang saat itu mulai sakit-sakitan. Tapi, kebencianku pada ayah kusembunyikan saja dalam benakku, tak sekali-kali kuperdengarkan atau kuperlihatkan pada ibu. Aku khawatir ibu marah dan membenciku karena kebencianku pada ayah.

Ketika ibu mulai merasa umurnya takkan lama lagi, ia mengindap kanker rahim, menurut perkiraan dokter tak mungkin tersembuhkan lagi, ibu memanggilku. “Pergilah mencari ayahmu. Ada orang kampung yang mengatakan bahwa ayahmu sekarang berada di Kutaraja. Setelah kau temuinya ajaklah ia pulang.” Namun aku diam. Tak sepatah kata pun yang kuucapkan saat itu.

“Kau dengar tidak?” ibu setengah membentakku.

“Ya, Bu.”

“Pergilah sekarang ke sana.”

“Tapi ibu sedang sakit. Saya tidak mungkin meninggalkan ibu dalam keadaan begini.”

“Ibu merindukan ayahmu.”

Aku diam, menatapnya dalam-dalam. Sungguh aku tak tahu bagaimana perasaan ibu. Namun aku tak mungkin meninggalkannya. Ibu yang selama ini kumiliki, seseorang yang menjadi tumpuan harapanku, bagaimana mungkin rela meninggalkannya tanpa seorang pun di rumah ini yang akan menjaganya. Kedua kakek-nenekku pun sudah tiada, sebelum ibu kawin dengan ayahku. Ibu hanya sendiri tanpa saudara kandung. Apalagi di kampung ini kami hanya pendatang. Ayah yang membawa ibu ke kampung ini. Kampung asal ibu di luar kabupaten tempat tinggal kami. Kami tidak mempunyai saudara selain para tetangga yang kerap datang menjenguk ibu bila mereka tahu ibu sedang sakit keras. Aku tak berani mengatakan kepada salah seorang tetangga untuk menjaga ibu jika aku pergi mencari ayah. Tapi ibu terus memaksa agar aku segera mencari ayah. Mungkin ia ingin bertemu dengan ayah yang terakhir. Kulihat dari sorot matanya, ada harapan yang tersimpan di sana. Namun perasaanku masih berat bila harus meninggalkan ibu sendiri. Jiwaku meronta, antara menuruti kehendak ibu untuk mencari ayah dan meninggalkan ibu sendiri yang hampir sekarat.

“Pergilah mencari ayahmu,” kudengar lagi ibu berkata.

Aku merasa ia  semakin dekat dengan ajalnya. Wajahnya pucat pasi, bagai bulan redup warna. Kulekatkan telinga saat kulihat bibirnya bergerak-gerak, seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan padaku.

“Penuhilah permintaan ibu, meskipun kamu membencinya,” bisik ibu amat pelan.

Perlahan, matanya meneteskan air bening yang tak tertahankan lagi. Airmata itu terus mengalir, membasahi pipi ibu yang berkerut. Tapi haruskah aku pergi, saat paling kunantikan telah tiba― aku ingin berada di dekatnya saat ia menutup mata. Aku menyesal selamanya jika harus meninggalkan ibu sendiri.   Tapi sorot mata ibu kian memaksaku pergi mencari ayah, aku tak kuat menahan paksaan yang kutasirkan dari tatapannya itu.

Ketika aku mengganti pakaian dengan pakaian kebiasaanku untuk bepergian, kulihat ibu melambai tangannya padaku. Aku merasa ibu sangat dekat ajalnya. Dan hanya beberapa helaan nafas, ketika kepalanya sudah berada di pangkuanku, ibu menghembus nafas terakhir. Ibu telah menutup usianya dalam pangkuanku. Meskipun kulihat wajahnya berseri, namun ada sesuatu yang tersimpan di sana. Ibu pergi membawa rindu pada ayah bersamanya. Aku berjanji, suatu saat akan mencari ayah, mengabari penderitaan ibu selama kepergiannya. Biar ayah tahu bahwa ibu sangat merindukan kepulangannya.

Jalan satu-satunya mula-mula kutempuh untuk mencari ayah dengan menghilangkan kebencianku padanya. Sebisa mungkin kulupakan bahwa ayah pernah melupakan kami saat itu.

Setelah menunggu hari keseratus kematian ibu, sebagaimana adat daerah kami, aku pergi mencari ayah ke Kutaraja. Tak lupa kutemui Wak Dirun untuk menanyakan di manakah sebenarnya ayahku tinggal di kota itu. Dulu mendiang ibu mengatakan bahwa Wak Dirun pernah bertemu ayah di sana.

“Memang, enam tahun lalu saya pernah bertemu dengan ayahmu. Dia sendiri yang memperkenalkan dirinya pada saya. Tapi sekarang, entah dia masih hidup atau sudah meninggal dibawa gelombang Tsunami pada 2004 lalu. Saya  tidak pernah mendengar kabarnya,” ujar Wak Dirun saat kutemui di rumahnya pada pagi itu.

“Tapi kenapa Ayah tidak pernah pulang, Wak?”

“Ketika itu Ayahmu takut pulang. Daerah kita masih konflik. Dia takut kalau pulang berakibat buruk bagi kalian. Rumah kalian bisa dibakar tentara karena menyembunyikan pemberontak.”

“Apakah memang Ayah saya pemberontak?”

“Setahu saya, dia bukan pemeberontak. Dia ditangkap karena difitnah teman sekantornya.”

Aku diam. Aku semakin menyadari kekhilafanku pada ayah. Aku terlalu membencinya tanpa mengetahui persoalan yang hadapi ayah saat itu. Maka, keinginanku mencari ayah sangat kuat. Aku ingin menemukannya. Kalau memang ayah sudah meninggal, setidaknya aku menemukan nisannya.

Tetapi, ketika tiba di Kutaraja aku merasa bingung. Kutaraja hanya kudengar dari orang-orang kampungku yang pernah datang ke kota ini. Aku belum pernah menginjakkan kaki di ibukota propinsi kami itu. Karena tak ada teman dan kenalan, aku berusaha mencari pekerjaan ke mana-mana, termasuk beberapa toko dan rumah makan.  Namun tak ada yang bersedia memberiku pekerjaan, dengan alasan  mereka tidak membutuhkan karyawan.

Kemudian aku tak tahu  harus tinggal di mana. Di malam hari aku tidur di teras mesjid Baiturrahman yang megah itu, dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda dan pernah dibakar oleh pasukan Belanda pada awal abad kedelapan belas. Seusai shalat subuh aku mulai menjelajahi tiap ceruk kota, ingin segera mungkin bertemu dengan ayah dan kuajaknya pulang.

***

Setelah berjalan jauh menyusuri deretan toko itu aku kembali ke mesjid, sesaat menjelang azan magrib dikumandangkan. Tak luput mataku menyisir pandangan ke seluruh pengunjung yang mulai memadati halaman mesjid. Kucari lelaki tua yang sempat kulihat tadi petang. Kuperhatikan wajah mereka, siapa sangka aku melihat sosok wajah lelaki yang terdapat bekas luka sebesar dua jari itu ada di antara para pengunjung. Tetapi, setelah sekian lama pandanganku menumpu pada wajah-wajah itu, yang kumaksud tak ada kutemukan juga. Akhirnya, aku menuju bak wuduk.

Suara gemericik air dan desir angin lembut mendesaukan dedaunan kelapa di samping bak wuduk itu mengingatku pada kampung halaman, udara sore menjelang senja itu mampu membangunkan kerinduanku ingin segera pulang. Tapi, sudah dua hari aku belum bertemu dengan ayah, bagaimana mungkin secepat itu aku harus menyerah pada keadaan yang membuatku semakin sulit menengarai ada apakah di balik semua ini. Mengapa aku harus kehilangan kedua manusia yang paling kusematkan kerinduan, harapan, sekaligus tumpuan segalanya dalam hidupku. Ah, semakin kuperdalam lamunanku, semakin pula aku tenggelam dalam rongga-rongga ketidakperdayaan. Aku begitu naif, kadang bagai daunan angsana yang luruh dari batangnya dibuai angin, melayang-layang di antara pusara waktu, tak tentu arah di manakah akhirnya ujung tombak nasib menikamku.

Seusai shalat magrib aku segera keluar, siapa tahu di antara ada ayahku. Aku buru-buru melangkah, setengah berlari. Namun aku kalah, para jamaah shalat keluar dari segala penjuru. Tak semua jamaah yang dapat kulihat wajah mereka. Hanya selintas saja kuperhatikan wajah mereka. Dan hasilnya tetap nihil,  hanya beberapa jamaah yang tersisa di dalam mesjid. Ayahku tetap tak kutemukan di antara mereka.

***

Siang itu aku hampir tak percaya, lelaki yang selama ini kucari telah terbujur kaku di depan mimbar mesjid. Wajahnya pucat pasi. Nadinya tak berdenyut. Tak ada lagi yang dapat kusangsikan bahwa ia masih hidup. Namun airmataku benar-benar kering, meskipun kupaksakan diri menangis. Aku hanya mampu menatap wajahnya, bekas luka sebesar dua jari itu membuatku kian yakin, dialah ayah yang kucari selama ini. Entah bagaimana kehendak nasib, kami bertemu saat segalanya terpisahkan. Aku sebagai anak tinggallah di ingatan. Dia sebagai ayah, hanyalah kenangan dalam ingatanku. Kami tak sempat menengarai rindu, sebagai asa yang kian terpendam dalam lubuk terdalam. Mungkin, beginilah kehendak Tuhan.

 

(Tanah Luas, 3 Juni 2011)

 

Mahdi Idris adalah Penulis Sastra. Buku Kumpulan Cerpen tunggalnya Lelaki Bermata Kabut (Cipta Media, 2011) dan Nurhayat (Mata I Publising, 2011). Sekarang menetap di Dayah Terpadu Ruhul Islam Tanah Luas, Aceh Utara.

 

 

Top Menu


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

ARTICLE


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday167
mod_vvisit_counterYesterday684
mod_vvisit_counterThis week3246
mod_vvisit_counterLast week4685
mod_vvisit_counterThis month15736
mod_vvisit_counterLast month25038
mod_vvisit_counterAll days850154

Layanan Iklan POTRET

 

Polling

Bagaimana menurut anda POTRET Edisi 53?