Belajar Partisipasi Perempuan dari Lombok Utara
Oleh Ruby Kholifah
AMAN Indonesia di Jakarta
Pintu partisipasi perempuan boleh tertutup, tapi ruang ekspresi perempuan secaramandiri harus tetap dibuka lebar. Ini, sepenggal cerita pergerakan perempuan di dusun Dasa Tenggak, Desa Jenggala, Lombok Utara, menuntut hak untuk bersuara. Oxfam Indonesia yang diwakili Edi Hidayat, Dandre dari Puan Amal Hayati dan Ruby Kholifah dari AMAN Indonesia, berkunjung ke dusun Dasan Tengak untuk mendengar cerita perubahan dari kelompok perempuan simpan pinjam. Ibu Marnim, satu dari dua puluh delapan perempuan yang tergabung dalam kelompok simpan pinjam di dusun Dasa Tenggal, akhirnya menemukan cara menyampaikan kebutuhan-kebutuhan perempuan di kampungnya agar bisa didengarkan oleh penguasa setempat.
Ditemani oleh enam orang anggota Kelompok Perempuan Simpan Pinjam (KPSP), rombongan kami dan Surya, pendamping lapangan KOSLATA, diterima dengan senyum yang lebar dan dipersilahkan duduk di bale-bale. Sebuah bangunan joglo tanpa dinding, beratap alang-alang, diletakkan dua meter dari pintu depan rumah. Suasana tampak santai dan bersahaja.Hembusan angin desa dari arah persawahan melepaskan penatku karena jalan yang berkelok-kelok menuju dusun.Dua bale-bale yang lebih kecil ukurannya terletak tidak jauh dari bale-bale besar yang kami gunakan. Begitu kami sudah mengambil posisi duduk yang nyaman, tak lama kemudian muncul Pak Raden membawa nampan berisi sepiring kacang tanah dan ubi rebus sebagai teman diskusi kami. Tidak ketinggalan kopi dan teh.Senyumnya merekah lebar tanpa ada rasa malu atau beban mengangkat piring-piring berisi ubi dan kacang rebus.
Sambil menikmati ubi rebus dan secangkir teh manis, kudengarkan Ibu Marnim, yang didaulat sebagai pimpinan KPSP mulai menceritakan tentang kegiatan kelompok mereka. Meskipun bukan hal baru bagi Ibu Marnim untuk berorganisasi, tapi kehadiran KPSP memiliki daya magis yang luar biasa bagi ibu-ibu di dusun Dasa Tenggal, terletak kira-kira satu jam dari Hotel Lombok Garden dengan mobil. KPSP dianggap mampu menjawab persoalan kebanyakan perempuan.Perempuan bertanggungjawab mengelola keuangan keluarga.Konsekuensi dari peran gender ini adalah ketika keluarga terjepit tidak punya uang, maka perempuanlah yang bertanggungjawab untuk mencarikan pinjaman.Suami sering tidak bisa menyelesaikan masalah ini.Disamping sebagian mereka merantau ke Malaysia, juga karena mencari pinjaman uang juga bukan hal yang gampang.Sehingga penting difikirkan bagaimana caranya agar perempuan mudah mendapatkan pinjaman.KPSP menawarkan pinjaman cepat dengan bunga kecil dan sistem pengembalian yang mudah dan bisa diangsur. ” Dengan adanya kelompok simpan pinjam, kami sudah tidak bergantung lagi pada suami, jika membutuhkan uang cepat (butuhan mendadak),” sela Bu Sabarni dengan nada percaya diri.
Selain masalah uang, Ibu Marnim juga menyebutkan beberapa keuntungan para ibu bergabung dalam KPSP in diantaranya adalah para ibu memiliki support group, ketrampilan berbicara di depan umum meningkat, dan rasa kebersamaan sebagai perempuan juga semakin terasa. Padahal dulunya, ibu-ibu sulit mengungkapkan gagasan atau ide-ide mereka.Meskipun telah terbentuk Kelompok Tani Hutan (KTH) pada tahun 1996, dimana petani laki-laki dan perempuan bergabung.Petani perempuan nyaris tidak mendapatkan tempat. Ibu Marnim sendiri mengaku dulu hanya ikut apa kata suami. Tidak pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan di rapat-rapat KTH.Apalagi di rapat Banjar.Forum tertinggi kampung yang dihadiri oleh Kepala Keluarga, dimana hampir semua rumah tangga dikepali oleh laki-laki.Di Banjar inilah segala sesuatu diputuskan, tanpa melibatkan perempuan di dalamnya.Saya akan kembali pada eksplorasi Banjar dan hukum adat dibagian lain.
Sampai kunjungan kami pada tanggal 14 Desember 2011, KPSP memang belum berhasil mempengaruhi keputusan Banjar secara langsung, karena ruang partisipasi belum dibuka. Namun di bidang peningkatan income keluarga, mereka sudah banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang menghasilkan uang.Misalnya membuat kripik pisang.Ibu Mariyani, anggota KPSP sudah pernah diundang oleh Deparindag untuk mengikuti training mengelolah jambu monyet. “ Saya sudah tahu bagaimana mengelolah biji mede, tapi sayangnya kami tidak diperbolehkan meminjam Kacip (begitu mereka menyebut alat penghilang minyak). Kata mereka juga, alatnya pinjam dari tempat lain,” Ibu Maryani mengeluh dan terlihat kesal karena ilmu yang dipunyai dia belum bisa dipraktekkan secara maksimal. Untuk masalah ini, salah satu staf dinas sosial, yang kebetulan mampir ke forum kita, menjanjikan akan mengawal proposal dari KPSP untuk meminta alat tersebut. Binar mata para ibu yang hadir di pertemuan siang itu, akhirnya terlihat ragu, manakala mendengar kata proposal.“Bisa gak ya kita buat,” gumam Bu Marnim.
***
KPSP mulai bangkit.Mereka terlibat dalam kegiatan di luar dusun mereka.Pemangku kepentingan tingkat desa mulai melirik.Mereka kemudian diundang untuk berpartisipasi dalam pembentukan Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) yang diselenggarakan pada pertengahan tahun 2010.Delapan orang perempuan berhasil masuk dalam jajaran struktur TSBD, dari dua puluh satu anggota tim yang dibutuhkan. Yang lebih membanggakan adalah lima perempuan dari kelompok simpan pinjam terlibat dalam TSBD. Ibu Siti menjelaskan peran perempuan dalam TSBD dibagian kesehatan dan dapur umum. “ Kami juga ditugasi untuk mensosialisasikan tentang bahaya bencana dan pentingnya kesiap-siagaan bencana,” ujar Bu Siti dengan bangga sebagai bagian dari Tim.
Dapur umum disini lebih pada bidang logistic, karena konsep tinggal di tenda tidak ditemukan dalam budaya Sasak di Lombok Utara.Surya, anggota Koslata menjelaskan bahwa keluarga besar malu jika ada anggota keluarga mereka yang ditimpa kemalangan tinggal di tenda. Keluarga besar akan menampung korban sampai situasi mengijinkan mereka pulang kembali ke rumah mereka.
Dusun Dasa memang belum pernah mendapatkan bencana. Tapi ancaman banjir dan longsor karena daerah perbukitan, terlihat dari kontur tanah di sana. Jika area perbukitan longsor, maka ada ratusan hektar tanaman produktif warga yang rusak.Begitu pula jika air sungai meluap, maka bisa dipastikan petani bisa gagal panen.Dalam waktu dekat TSBD akan melakukan simulasi penanganan bencana di tingkat dusun. Dalam hal kordinasi Kepala Dusun memainkan peran penting untuk menjalankan perintah dari struktur TSBD di tingkat desa.
Laki-laki baru, sangat berperan dalam membuka ruang-ruang konsolidasi perempuan dan mendorong partisipasi perempuan di publik. Laki-laki baru adalah pendamping lapangan dari LSM KOSLATA, dan suami-suami di dusun Dasa. Surya, Syamsul, Totok dan Wadi ( Bukan nama aslinya), yang bekerja mendampingi Desa Jenggala Kecamatan Tanjung, Lombok Utara ini mendedikasikan hidupnya untuk kemandirian masyarakat. Pertemuan singkat dengan mereka, setelah makan siang, saya temukan kemiripan strategi dalam mendorongkan partisipasi perempuan yang sedang diimplementasikan oleh AMAN Indonesia.
Syamsul, salah satu pendamping lapangan Koslata yang bekerja di dusun lain, membeberkan strategi lembaga dalam mendorong partisipasi perempuan di tingkat dusun dan desa. Jarangnya perempuan dilibatkan dalam rapat, absennya perempuan dalam strutur dusun atau desa, ditambah budaya bisu perempuan membuat wajah perencanaan pembangunan desa terlihat sangat maskulin dan penuh dengan agenda pembangunan fisik.Kegelisahan ini yang mmebuat KOSLATA mengambil langkah radikal untuk membangun kemandirian kelompok perempuan, secara terpisah.Strategi ini diambil karena perempuan tidak bersuara ketika dicampurkan dengan forum laki-laki.Olehkarenanya perlu ada affirmative action agar rasa percaya diri dan ketrampilan menyampaikan pendapat terbangun di kelompok perempuan.
Paling sulit membangkitkan kepercayaan diri perempuan. “Mereka bisa”.Namun, konstruksi patriakal menjadikan perempuan tidak mampu mengurus desa.Mereka diinternalisasi oleh kelompok perempuan.Makan dalam segala aspek mereka menyerahkan pada keputusan lalki-laki.Lalu, dilakukan inventarisasi tokoh-tokoh perempuan yang ada di dusun ini untuk diorganitisir menjadi kekuatan tunggal perempuan. Baru setelah itu mereka membuat forum khusus untuk membahas isu-isu yang akan didiskusikan di forum warga. Mereka dilatih memunculkan gagasan baru, juga dilatih bicara di publik.Bila perlu mereka juga disiapkan menyampaikan analisis yang sudah disepakati.Hasilnya memang cukup menggembirakan bahwa beberapa perempuan mampu untuk berargumentasi dengan para laki-laki yang hadir di forum.
Kelompok laki-laki baru ini juga tidak sungkan-sungkan menceburkan dirinya ke dalam proses perencanaan di tingkat dusun dan desa, termasuk mengawal Rencana Aksi Masyarakat (RAM) sampai pada tingkat kabupaten. Sangat mengagumkan degan keterbukaan yang disediakan oleh pemerintah kabupaten Lombok Utara, dimana kelompok LSM diperkenankan masuk menjadi bagian dari masyarakat yang punya hak bicara dalam Musyawarah Perencanan Pembangunan Desa (Musrembangdes). Musrembangdes tahun 2011, ada 11 orang perempuan dari berbagai dusun yang hadir ditengah 58 perwakilan desa yang ditunjuk untuk hadir dalam rapat perencanaan.
Bagaimana pendamping lapangan meyakinkan pada perwakilan laki-laki agar bisa menerima perempuan hadir dalam rapa? Masalahnya, arogansi adat yang masih menganggap urusan desa adalah urusan laki-laki, tentu saja sulit untuk dilobi.Namun, pendamping Koslata punya strategi yang menarik untuk dibagi. Menurut Surya selain melakukan affirmative action pada kelompok ibu-ibu, mereka juga meyakinkan pada kelompok laki-laki bahwa jika perempuan tidak terlibat dalam rapat, maka akan kesulitan untuk melihat persoalan perempuan. Strateginya, hasil diskusi dengan kelompok perempuan dipresentasikan di dalam forum laki-laki. Kemudian di sana ada dialog. “ Seru kalau sudah begitu,karena perempuan-perempuan itu pasti menuntut pada bapak-bapak yang tidak mengundang mereka rapat,” Syamsul sambil tersenyum-senyum, mungkin membayangkan situasi bapak-bapak dikeroyok ibu-ibu di forum.Awalnya pada bapak merasa aneh dengan gagasan tersebut, namun akhirnya setelah mendengarkan hasil dari kelompok perempuan merka bisa menerima juga.
Para suami juga tampaknya tidak banyak protes.Karena KPSP benar-benar bisa menutupi kelemahan para bapak yang tidak pandai hitangan. Sehingga mereka juga tidak bisa melarang ibu yang kemudian jadi aktif ke sana ke mari untuk mengembangkan aktifitas kelompok. Menurut ibu, bapak di dusun Dasa tidak segan-segan membantu “ngemong” anak mereka ketika istri ada pertemuan kelompok.Tapi memang para istri tetap harus pastikan bahwa makanan tersedia di atas meja meninggalkan rumah.
***
Tantangan besar dalam pemberdayaan perempuan adalah hukum adat.Meskipun kelompok ibu-ibu dan KOSLATA sudah berhasil mendorongkan partisipasi perempuan dalam forum formal pengambilan keputusan, namun forum Banjar masih didominasi laki-laki.Banjar merupakan forum informal yang sangat strategis untuk diintrodusir pentingnya partisipasi perempuan.Dari lima pemangku kepentingan di dusu yaitu Dusun sendiri, Banjar, kelompok kesehatan, KSPS dan juga KTH, maka Banjar yang mempuyai pengaruh besar dalam memutuskan segala sesuatu. Bukan saja berkenaan dengan adat, tapi juga karena Banjar merupakan forum tertinggi kampong.
Tidak pernah ada aturan bahwa harus laki-laki yang hadir dalam Banjar, tapi di desa Dasan Tengak, Banjar dipengaruhi oleh laki-laki. “ Di Desa Banjar bisa dihadiri oleh perempuan. Karena banyak juga kepala rumah tangga yang perempuan, karena mereka ditinggal mati suami atau bercerai,” sesungguhnya dalam adat tidak ada aturan “harus laki-laki” hadir di Banjar.
Bicara masalah adat, para ibumenekankan bahwa beberapa aturan adat sebenarnya merugian perempuan. “ Ngiwat, atau membawa lari perempuan lain itu merugikan para istri. Karena jika suami ingin kawin lagi, mereka tidak minta persetujuan dari istri pertama.Tiba-tiba mereka bawa perempuan ke rumah,” ucap Bu Sabarni dengan ketus, menunjukkan dia tidak suka dengan adat tersebut. Ibu Matip yang dari tadi diam, mulai angkat bicara ,” siapa yang mau dimadu. Biasanya kalau sudah ada perempuanlain hadir di rumah, istri pertama minta cerai.”
Mungkinkah perempuan berpartisipasi dalam forum Banjar? Ini pekerjaan rumah yang tidak gampang karena akan berhadapan dengan pemangku adat yang mempunyai pemahaman terhadap hukum adat yang berlaku. Apalagi adat masih kuat dijunjung di dusun Dasan Tengak, Desa Jenggala ini.Tapi kalau melihat Pak Raden, sebagai pemangku adat di Dusun Dasan Tengak, tidak canggung melayani tamu, maka bukan hal yang tidak mungkin ada perubahan di forum Banjar. Dengan kerja keras kelompok simpan pinjam, Ibu Marnim dan kelompoknya sudah diperhitungkan di tingkat desa.Maka manfaat simpan pinjam yang sudah dirasakan oleh para suami di dusun Dasan, bukan tingak mungkin bisa meluluhkan keangkuhan laki-laki untuk menerima perempuan menjadi bagian dari pengambilan keputusan di Banjar.Siapa tahu!.







