• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Jangan Tawuran, Generasiku…

E-mail Print PDF

Jangan Tawuran, Generasiku…

Oleh: Teungku Bukhari

Pesantren Darussalam, Ule Gle, Pidie Jaya

 

Sekarang seakan telah menjadi sebuah trend baru bagi kebanyakan remaja, khususnya pelajar dan mahasiswa, melakukan tawuran. Tawuran dilakukan oleh mereka pelajar sesama pelajar. Juga mahasiswa dengan mahasiswa. Bahkan juga ada massa dari satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Biasanya dia terjadi antara satu kelompok dengan kelompok yang lain. Satu sekolah dengan sekolah lain. Satu fakultas dengan fakultas dari ilmu pengetahuan lainnya. Begitulah yang kerap terjadi sekarang pada generasi penerus bangsa kita. Ironis dan sangat memprihatinkan kita.

 

Percaya atau tidak, bias dari aksi tawuran itu, tentu saja kehancuran dan kebinasaan dalam segala aspek. Mulai dari fisik tempat terjadinya tawuran, lokasi umum, sampai kepada jiwa dari pelaku aksi tersebut. Tawuran selalu berimplikasi kepada kerugian. Tidak pernah sedikit pun ada manfaat di sana. Malahan justru itu menggambarkan masih belum cerdasnyanya generasi bangsa. Mereka masih terpengaruh dengan ulah dan kegiatan bar-bar yang tidak menunjukkan ketinggian intelektualitas pelakunya. Yang ada di pikiran hanya bagaimana biar terlihat lebih berani dan lebih jago dari lawannya, pada kawannya. Ironis, jago dalam bidang destruktif yang dibanggakan.

 

Tawuran biasanya disebabkan oleh masalah yang sangat sepele. Bahkan mungkin memalukan untuk dikatakan. Contohnya, hanya dengan masalah dari sepotong sampah yang tercampak pada tempat kelompok lainnya, akan menyebakan perseteruan. Mulanya perseteruan beberapa oknum. Kemudian masing-masing memobilisasi massa untuk menyerang kelompok dari pihak seterunya. Padahal, banyak sampah lain bertebaran oleh diri dan pada tempatnya tidak diperlihatkan kemarahannya. Sok bersih ketika ingin menampakkkan kegagahan kepada orang lain. Berbuat tidak karena didasarkan pada tujuan kemaslahatan. Tapi untuk menampakkan kehebatan.

 

Virus dan penyakit itu kini mewabah pada kebanyakan generasi remaja. Mereka tidak lagi berlomba untuk menjadi yang terbaik di antaranya pada masalah kebaikan yang layak dibanggakan. Tetaapi berburu ingin menjadi yang terlebih di antaranya meskipun tidak ada nilai kelebihan. Mereka suka menjadi yang favorit. Tapi salah alamat dalam mempersepsikan makna kefavoritan itu. Distorsi pemaknaan tersebut menyebabkan mereka terjebak dalam jurang kegagalan dan kehancuran.

 

Sesuatu yang sangat disayangkan generasi kita bermental demikian. Padahal perkembangan zaman kini telah begitu pesat. Kemajuan ilmu pengetahuan telah begitu tinggi. Manusia modern tidak lagi menumpukan pemikirannya pada hal yang sepele dan tidak bermanfaat. Mereka dituntut untuk senantiasa kreatif dan selalu aktif mengaktualisasikan diri pada jalan menuju kesuksesan. Tensi perlombaan dalam kehidupan yang sangat kuat meniscayakan komitmen untuk disiplin tinggi dalam bertahan pada sebuah langkah menuju keberhasilan. Dia tidak boleh sedikit pun dihinggapi oleh sikap keteledoran. Karena sedikit saja lengah, maka saingan kita akan menyalip dan meninggalkan kita. Itu menyebabkan kita kalah dalam kehidupan.Ini adalah kerugian besar adanya, akan terjadi apabila generasi sibuk dengan aksi tawuran yang menghancurkan itu.

 

Generasi sekarang harus memiliki semangat yang tinggi dalam mencapai dan menggapai kesuksesan. Ke depan, keadaan kehidupan sudah sangat tidak menentu. Ketimpangan dan ketidakbaikan terjadi dalam segala bidang. Setiap orang dituntut untuk punya perbekalan yang cukup dalam menghadapi tantangan zaman. Rintangan yang datang bergerombolan tidak boleh tidak, harus dihadapi dengan keuletan mengelola keadaan. Generasi yang ada sekarang pada saat itu sangat diharapkan peranannya dalam menghiegeniskan keadaan. Mereka harus tangguh dan mapan menetralisirkan keadaan dari kejang-kejang akibat terkontaminasi bakteri menghancurkan.

 

Wahai generasi penerus bangsa, tawuran itu hanya menggambarkan keadaan kalian yang masih bodoh dan dungu. Hanya orang-orang bermental demikian yang akan melakukan sesuatu yang membinasakan. Kepala mereka tidak berpikir. Otak mereka hanya dipenuhi tinja yang tak ubahnya otak udang. Generasi teladan tidak lagi menyukai hal yang demikian. Generasi tangguh adalah mereka yang tertantang untuk membuktikan bahwa mereka sanggup menjadi yang terbaik dan bersaing dengan mereka yang telah terkenal berhasil dalam mencapai tingkat terbaiknya. Mereka berkomitmen dan berikrar dengan sepenuh hati dan segenap perasaan bahwa mereka ingin memosisikan diri pada tempat yang berperan sebagai penanggungjawab dalam menjaga bangsa dan agama. Itu tekad hidup mereka. Mereka tidak pernah berkhianat pada tekad dan ikrar mulianya.

 

Generasi tawuran itu tidak mencerminkan orang yang terpelajar. Tawuran itu, meskipun tren baru, namun jadul ideologinya. Jangan lagi terkecoh dengan hal-hal kecil murahan yang demikian. Sudah saatnya kita singsingkan lengan baju. Memompa semangat sekuat mungkin untuk memperjuangkan kesuksesan dalam kehidupan. Kita harus berhasil dan mencapai kesuksesan di dua buah dunia. Dunia yang sekarang dan dunia yang akan datang. Jangan lagi lalai dangan sesuatu yang tidak memberikan manfaat pada perjuangan hidup. Cuek dan apatis saja pada keadaan teman-teman yang melakukan kehancuran berupa tawuran. Jangan terpengaruh untuk ikut-ikutan seperti mereka. Ajaklah mereka dengan cara baik-baik untuk meninggalkan kegemaran yang mencerminkan kebodohan pelakunya itu. Pengaruhilah mereka dengan hati menuju ke arah yang lebih menjanjikan keuntungannya. Sesuatu yang keluar dari hati akan lebih efektif dan mengena tepat pada sasarannya.

 

Generasi kita harus menjadi pejuang dalam kehidupan yang menghalang dan menggagalkan tawuran, mengalihkan semangat pelaku tawuran itu dari yang berbentuk sesuatu yang menyebabkan kebinasaan kepada semangat menegakkan kebenaran. Pelopori mereka berkomitmen mulia menjadi pejuang kebenaran dalam kehidupan. Jangan pernah berhenti untuk misi itu. Apalagi sekarang sangat minim orang yang melakukannya. Remaja kini telah sangat asing dengan istilah pejuang kebenaran. Mereka tidak lagi terlalu memedulikan dengan yang namanya kebenaran dengan kebaikannya. Konon lagi kepada istilah pejuang. Mereka hanya hidup untuk hidup dengan apa yang menghidupkannya. Tujuan dan makna hakiki dari kehidupan telah tiada pada diri mereka. Kehidupan yang tidak hidup. Hidup tanpa adanya kehidupan.

 

Generasi ku,  bangsa dan agama menanti bakti suci kita. Tuntut ilmu yang tinggi. Ubah bangsa ini dengan ilmu yang kalian peroleh. Agama sangat mengharapkannya. Bangsa telah nyaris putus asa pada dedikasi kita pada sesuatu yang mulia dan membawa bangsa ini ke arah yang dapat memberikan kemajuan dengan tetap mempertahankan nilai kemuliaan. Cita-cita bangsa yang telah termaktub Pancasila. Jangan lakukan tawuran, generasi!

 

Generasiku…

 

Generasiku…

Pemudaku…

Bangunlah dikau

Berjuanglah dikau

Berbuatlah dikau

Untuk agama…

Dan untuk bangsa

Tidakkah engkau melihat

Tidakkah engkau menatap

Betapa sedikitnya

orang yang peduli agama

Betapa minimnya

orang yang perhatikan agama…

 

Wahai generasiku…

Wahai penerus bangsa dan agamaku…

Pernahkah engkau membayangkan

Pernahkah engkau memikirkan…

Bagaimana nanti…

Ketika engkau telah mulai berperan

Bagaimana nanti…

Ketika engkau telah berdiri di garda terdepan

Engkau telah menjadi pemegang kebijakan

Pengambil keputasan…

Pemutus pertentangan…

Penolak kemurtadan…

Pendobrak kemusyrikan…

Pengayom persengkataan…

Pelurus kesesatan…

Penjelas keraguan…

Penerang kesyubhatan…

Penjawab pertanyaan…

Pendamai peperangan…

Pencipta keadilan…

Penunjuk kebenaran…

 

Sudahkah engkau siap…

Sudahkah engkau mantap…

Sudahkah engkau kuasai alasan akurat…

Dalil tepat…

 

Jangan engkau kata ada orang lain…

Karna orang lain juga akan berkata demikian

 

 

Top Menu


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

ARTICLE


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday553
mod_vvisit_counterYesterday612
mod_vvisit_counterThis week2404
mod_vvisit_counterLast week4523
mod_vvisit_counterThis month15438
mod_vvisit_counterLast month25038
mod_vvisit_counterAll days849856

Layanan Iklan POTRET

 

Polling

Bagaimana menurut anda POTRET Edisi 53?