• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

BAPAK PUN PERGI

E-mail Print PDF

BAPAK PUN PERGI

Oleh: Wulan Suminarsih

Freelancer, Berdomisili di Bekaksi

Suasana malam di Bandara masih sangat ramai.Aku masih menunggu mbak Ningsih, kakakku, yang sedang check in. Aku tidak ikut karena ada Rama dalam gendonganku, yang masih berumur 1,5 bulan.Dan juga Hilma anak sulungku, yang berumur 2 tahun.Aku tidak cuma bertiga.Di sekelilingku berkumpul keluargaku.Bapak, ibu, kakak-kakak beserta para suami lengkap dengan anak-anaknya.Juga Adik semata wayangku dan suaminya.

Malam ini, keluargaku akan melepas keberangkatanku ke Hiroshima, dalam rangka menyusul suamiku yang sudah 6 bulan di sana. Mbak Ningsih, ikut menemaniku ke sana.Sebetulnya aku paling tidak suka dengan suasana seperti ini.Semuanya menunjukkan wajah ceria, tetapi dalam hati pasti merasa sedih.Melepas aku, selama kurang lebih 2 tahun tanpa bisa bersua.Semuanya kulihat asyik bercengkerama.Kalau aku agak setengah hati.Pertama, karena aku takut sekali naik pesawat terbang, meskipun ini bukan yang pertama. Ke Solo, pernah. Ke Sumatera, pernah. Tapi ini kan ke Jepang. Jauuuuh. Membawa bayi pula.Kedua, kalau tiba waktu boarding, otomatis aku tidak lagi bisa bertemu keluargaku.

Hingga tiba akhirnya, kami harus mengucapkan kata-kata selamat dan kata-kata perpisahan. Ah, mengharu biru. Aku mencium takzim tangan kedua orang tuaku, juga berpamitan dengan kakak-kakak, dan adik.Tak ketinggalan kuciumi keponakan-keponakanku yang lucu. Bergegas aku merapikan kembali barang-barang yang akan kami bawa ke dalam pesawat. Dibatasi ruang kaca ini, kami saling melambaikan tangan.Aku tahu, pasti ibu menangis. Dan bapak…….ah bapak… sulit menebak perasaannya saat ini. Aku mengenal bapakku, sebagai orang yang tegar, bukan saja karena badannya yang tinggi tegap.Tetapi dalam setiap kesempatan, beliau selalu menunjukkan sikap yang penuh wibawa.Tidak ada kata-kata yang panjang lebar saat melepasku.Dia hanya ucapkan agar aku hati-hati di negeri orang.

Aku, mbak Ningsih, dan kedua anakku masuk ke ruang boarding. Menunggu kira-kira satu jam, dan akhirnya pesawat take off. Aku berdoa untuk keselamatan kami di pesawat, juga untuk keluargaku di Jakarta.

***

Pukul 08.00 waktu Jepang.Bandara Hiroshima. Kure. Amboi! Ternyata inilah negeri Sakura itu.Dengan keramahan dan kesantunannya, seorang petugas bandara membantuku keluar dari pesawat dan menyiapkan kereta bayi untuk Rama. Bahkan tas jinjing pun dibawa oleh mereka. Segala keperluan administrasi, juga dibantu.Yang paling tidak kumengerti adalah sederet huruf-huruf ajaib.Karena memang aku belum pernah belajar yang namanya hiragana, katakana, apalagi kanji. Ah, tetapi tidak perlu pusing, karena aku selalu dibimbing sampai ke arah pintu keluar.

Tak lama kami bertemu suamiku dan seorang temannya.Pertama kali yang membuatku terkejut adalah hawa dingin yang menusuk.Ini bulan Oktober.Suhu diperkirakan sekitar 11 derajat celcius.Baru sebelas derajat. Dingiiin. Tanpa jaket, dan aku segera memeluk kedua anakku, mengajaknya bergegas ke dalam mobil.

Di sepanjang jalan aku tersenyum.Menikmati keindahan negeri Sakura.Terlihat rapi dan sangat bersih.Udara pun terasa bebas polusi.Aku dan mbak Ningsih tidak berhenti-henti mengaguminya. Belum lagi terlihat daun-daun yang seolah-olah akan berubah warna menjadi merah.

Jarak dari bandara ke kota Saijou, apartemen yang akan kami tempati kira-kira 45 menit dengan mobil. Tidak ada kemacetan. Saijou adalah kota kecil di bagian timur Hiroshima. Kata suamiku, bukan kota yang ramai. Rasanya kami ingin segera tiba sampai di sana dan segera menelpon keluarga di Jakarta bahwa kami benar-benar sudah di negeri Jepang.

***

Mas Hadi, suamiku, sedang menempuh pasca sarjana di Hiroshima Daigaku (Hiroshima University). Bapak, pasti sangat senang ketika tahu bahwa suamiku akan melanjutkan sekolah di Hiroshima. Bangga. Sekali pun dia bukan anak kandungnya.Bagaimana seandainya aku yang mendapat kesempatan belajar ini.Mungkin yang terbayang oleh bapak adalah suamiku juga bisa berbagi kebahagiaan untuk anaknya dan cucu-cucunya.Pasti  aku akan banyak bercerita kepada bapak tentang hal-hal yang menarik di sini, meskipun belum satu hari kami ada.

Apartemen mungil. Sun Square apato.Hilma langsung menuju tempat tidur yang memang cuma satu.Dia melompat-lompat kegirangan, seolah lupa dengan hawa dingin karena pemanas otomatis belum dinyalakan.Aku dan mbak Ningsih leyeh-leyeh. Jetleg. Lumayan, di atas pesawat 8 jam. Mas Hadi sibuk bercerita ini itu tentang segala macam benda-benda di apato. Benri. Comfortable. Mas Hadi juga sudah merencanakan akan membawa kami ke mana hari pertama ini.

Tiba-tiba telepon berdering.Mas Hadi bergegas mengangkat telepon. Belum tahu apa yang dibicarakan, suamiku memanggil mbak Ningsih. Mbak Ningsih mengambil alih. Terlihat serius. Kutangkap isi pembicaraan sepotong-sepotong.Aku tunggu saja.Kelihatannya dari Jakarta.Selesai menutup pembicaraan, mbak Ningsih menghampiriku, duduk di atas kasur.Wajahnya kulihat murung.

“Ada apa mbak?”

“Bapak sakit.” O ya? Bukankah semalam bapak terlihat sehat?

“Sakit apa?”

“Serangan jantung di lapangan tenis. Sekarang sudah di rumah sakit. Tapi belum sadar.”

Ya, Allah! Aku bingung. Sedih. Rasa gembira yang baru sebentar, sudah berganti suasana murung di kamar ini.Pasti ibu sangat sedih. Dan yang lain juga. Menghela nafas panjang.Tidak mengerti harus bagaimana. Mas Hadi dan mbak Ningsih sepakat, sementara ini kami akan terus menanyakan kabar lewat telepon saja. Sedihkah bapak karena kepergianku? Ah, kubuang jauh-jauh prasangkaku itu.

***

Kami beraktivitas seperti biasa.Bapak belum sadar juga. Kira-kira tiap 3 jam kami telepon ke Jakarta untuk menanyakan kondisi bapak terakhir. Untuk menghilangkan kegelisahan hati, kami sesekali keluar.Ada yang perlu kami urus.Gaikokujin Toroku, pendaftaran orang asing di syakusho (kantor pemerintah). Karena Saijou adalah kota kecil, tidak perlu waktu lama untuk pergi ke mana pun. Bisa dengan jalan kaki, atau sepeda.Suasananya pun tenang.Dari sana, kami pergi berbelanja keperluan dapur di supa (supermarket). Untuk kota seperti Saijou saja, fasilitasnya sangat baik. Kira-kira ada dua departemen store, Fuji Grand, You Me Town,  dan Saijou Plaza. Selebihnya supermarket kecil, kantor pos, sekolah, taman bermain, perpustakaan, tempat penitipan anak, dan lain-lain.

Hari ketiga. Kami telepon ke Jakarta.Bapak sudah siuman. Syukurlah. Aku dan mbak Ningsih bisa sedikit lega, meskipun kata ibuku, bapak masih sulit mengenali orang. Aku berharap, kondisi bapak akan terus membaik.Kadang terselip keinginanku untuk pulang menemui bapak.Tetapi mbak Ningsih terus menghibur agar aku tenang-tenang saja di sini.

***

Dua minggu sudah kami menikmati kota Saijou. Mencicipi bis yang nyaman, atau berkeliling dengan sepeda. Tempat yang paling sering kami kunjungi adalah depato (departemen store).Mengamati kebiasaan orang-orang Jepang menyapa dan berkeliling-keliling mencari barang yang bisa dibawa pulang untuk omiyage (oleh-oleh). Jangan tanya harganya. Hampir semuanya mahal, kecuali hyaku eng shop, yang khusus menjual barang-barang seharga 100 yen.Bendanya unik-unik, tetapi harus pandai-pandai memilih karena tidak semuanya produk Jepang. Tempat yang sangat cocok dengan anak-anakku adalah tamanChuo. Sangat dekat dengan apato.Mereka bisa bermain pasir, berlari-lari, dan menikmati permainan yang ada. Tak perlu bayar. Gratis, sepuasnya.

Tiap habis berburu omiyage, aku dan mbak Ningsih langsung packing ke dalam koper.Khawatir over weight.Semua omiyage sudah dipersiapkan untuk tiap orang.Mbak Ningsih juga tidak ketinggalan berburu komik kesukaannya.Rencana mbak Ningsih tinggal satu bulan di Hiroshima terpaksa dibatalkan.Mbak Ningsih memutuskan pulang lebih awal karena melihat kondisi bapak yang masih dirawat di rumah sakit.

Di  hari kepulangan mbak Ningsih, aku, mas Hadi dan kedua anakku turut mengantar ke bandara. Tidak ada yang aku pikirkan saat itu, selain kesembuhan bapak menjadi lebih cepat dengan hadirnya mbak Ningsih.

***

Tak terasa hampir 2 tahun berlalu. Melihat salju, merasakan empat musim, belajar bahasa Jepang, kerja freelancer, ikut klub, dan apa pun. Yang lebih membahagiakanku adalah aku, mas Hadi, Hilma, dan Rama senantiasa sehat.Juga, keluarga di Jakarta.Aku selalu merindukan mereka.Terlebih dalam suasana Hari Raya, biasanya kerinduanku sangat memuncak.Ingin rasanya terbang ke Jakarta agar bisa berkumpul.Selang berapa hari biasanya aku menelpon ke Jakarta, spesial untuk menanyakan kabar kesehatan bapak yang berangsur-angsur pulih.Dari yang bicara sulit dan terbata-bata kini lebih lancar.Dari yang berjalan dengan tongkat, kini sudah bisa berjalan tanpa tongkat lagi.Dengan kecanggihan teknologi, aku sangat memanfaatkan kehadiran webcam.Betapa senangnya aku, tak cuma bisa mendengar tetapi juga menatapi satu-satu wajah ibu, bapak, kakak, adik, dan keponakan-keponakan yang makin besar.

Tiap pergantian musim adalah saat yang ditunggu-tunggu.Berburu barang diskon. Terutama pakaian. Perbandingan harganya lumayan jauh.Barang-barang yang dijual pada musimnya sangat mahal untuk ukuran kantong kami.Bila musim berganti, inilah kesempatan terbaik untuk belanja.Biasanya barang-barang yang sudah memenuhi ukuran satu kardus, langsung dipos untuk keluarga Jakarta.

***

Ini adalah tahun terakhir kami berada di Hiroshima.Ditandai dengan kelulusan mas Hadi memperoleh gelar master.Tak terbayang betapa bangganya orang tua kami nanti.Hari-hari terakhir disibukkan dengan packing barang-barang yang bisa dibawa pulang ke Jakarta.Karena jumlahnya besar, dan biaya mahal, maka kami mengeposkannya lewat funabin (pos laut).Meskipun lama, tetapi biayanya lebih murah dibanding pos udara.

Ketika semua dirasa siap, termasuk mengembalikan keadaan apato seperti saat pertama kami datang, kami pindah ke Kobe, karena penerbangan Hiroshima tertutup untuk ke Indonesia. Di Kobe kami tinggal di apato seorang kenalan.Hanya semalam, dan besoknya kami harus pindah ke bandara Osaka.Jadwal kepulanganku pun sudah kukabari ke Jakarta.Dan seluruh keluargaku sudah siap menunggu kedatangan kami.

Malam di Kobe, kami sempat berjalan-jalan ditemani teman mas Hadi. Kami melihat kapal-kapal besar yang sangat terkenal di sana. Meskipun besok kami sudah berangkat ke Jakarta, tetapi tiba-tiba kerinduanku muncul begitu besar.Malam sebelum kami tertidur, aku membuka-buka email, seperti menanti kabar dari Jakarta.Tak cuma itu, hatiku gelisah ingin menelpon langsung. Suamiku mengizinkan. Berapa kali kucoba menelpon ke Jakarta selalu gagal. Ah, mungkin ini cuma ketidaksabaranku saja menunggu besok. Dan kami pun segera beranjak tidur.

***

Esok paginya, disambut cuaca cerah di Kobe, kami berdandan rapi sambil mengecek barang yang akan kami bawa. Travel yang akan mengantar kami ke Osaka pun telah siap.  Tetapi, aku masih ingin mencoba menelpon Jakarta.Mas Hadi lagi-lagi mengizinkan.Dia memberikan saran agar aku memakai telepon umum yang berada tak jauh dari penginapan.Aku berjalan dengan perasaan yang berbunga-bunga.Alhamdulillah, telepon ke Jakarta bisa tersambung. Aku mendengar suara mbak Ningsih di seberang sana. Tapi terbata-bata. Pindah pada kakakku mbak Rini juga dengan suara yang serak,

“Santi, bapak sudah pergi…..” La haula walaa quwwata illa billah. Seluruh persendianku terasa lemas.Aku sendiri di tempat ini.Aku mencoba bertahan dengan memegang kuat box telepon.Aku melihat sekeliling, tidak ada satu pun orang lewat. Seakan tak percaya, aku bertanya,

“Kapan mbak?”

“Tadi malam. Santi yang kuat ya.Ini bicaralah di telinga bapak. Katakan sesuatu.”

Pecah tangisku, dengan sisa ketegaranku, aku berucap,

“Bapak…..maafkan Santi…..” Saat itu aku merasa bapak mendengar suaraku.Setelah itu kututup gagang telepon dan berlari ke arah mas Hadi.Mas Hadi yang langsung memelukku merasa sangat bingung.“Bapak meninggal tadi malam, Mas.”

Kedua anakku tiba-tiba menangis.Keduanya minta aku peluk.Mungkin mereka bingung melihat ibunya.Dan mereka tidak mengerti. Mas Hadi segera menuntun kami masuk ke dalam mobil yang akan memberangkatkan kami ke Osaka.

***

Bandara Osaka yang sangat luar biasa, berdiri di atas laut, tak juga bisa mengubah perasaanku yang tak menentu.Di dalam pesawat pun keadaan makin tak bisa menenangkanku.Hujan badai di atas pesawat, mengiringi tangisanku yang tidak bisa juga berhenti.Hingga akhirnya pesawat mendarat pukul 23.00.Sampai di rumah ibu kutatap rangkaian bunga belasungkawa dan sisa-sisa bendera kuning yang berserakan.Aku melangkah gontai, masuk ke dalam rumah. Aku tidak akan pernah lagi melihat bapak, tak juga jenazahnya. Aku berlari mencari ibu, dan memeluk kaki ibu.Aku sempat berbisik sambil mengeluarkan ,“Bu, ini kaos lengan panjang untuk bapak.” Ibuku menerimanya.Tetapi kupikir, aku tidak boleh terlarut dalam suasana seperti ini.Kusalami semua keluargaku yang masih setia menanti kedatangan kami, setelah pemakaman siang tadi.

***

Udara pagi yang sejuk, meringankan langkahku, mas Hadi dan anak-anakku di taman pemakaman. Di sinilah bapakku beristirahat dengan damai.Kami bersimpuh sambil mendoakan bapak. Anak-anakku menatap dan bertanya, “Siapa bu? Ini siapa?” Mas Hadi menjelaskan semuanya, meskipun anak-anakku tetap belum mengerti.

Kataku, “Berdoalah sayang, supaya eyang kakung bisa masuk surga.”

Kedua anakku mengikuti gerakan tanganku,

“Rabighfirli wali walidayya warhamhuma kama rabbayani saghira…….”

Bapakku, adalah laki-laki jarang sekali bicara.Tak ada yang kuingat ucapannya kecuali nasihat. Kelak akan kuwariskan untuk anak-anakku.

***

Jakarta 27 Februari 2010

 

 

Top Menu


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

ARTICLE


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday319
mod_vvisit_counterYesterday612
mod_vvisit_counterThis week2170
mod_vvisit_counterLast week4523
mod_vvisit_counterThis month15204
mod_vvisit_counterLast month25038
mod_vvisit_counterAll days849622

Layanan Iklan POTRET

 

Polling

Bagaimana menurut anda POTRET Edisi 53?