Belajar Peduli Lingkungan Dari Ibu
Oleh: Septia,
Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Lahan Unsyiah
Dari sudut perbatasan sebuah kota, kisah inspiratif ini saya dapatkan. Sebuah keluarga kecil dengan satu anak perempuan kira-kira berusia 3.5 tahun. “Mama, ada bungkus susu kedelai di tempat sampah” serunya!. “Ya, mbak Za” (panggilan anak perempuan tersebut) , Mamanya menyahut. “Ada bungkus susu Mama!. Kok dibuang?”lanjut anak tersebut. “Kan bisa disimpan!’ tambahnya sambil ekor matanya menatap tumpukan rapi bekas bungkus susu di atas lemari dapur.
Mamanya bangkit dari duduk dan menghampiri anaknya sambil berkata “o........! Ayo kita rapikan!” Diangkatnya sang anak dan didudukan di samping tempat cuci piring, sang anak memperhatikan mamanya yang membuka kotak susu dan mencucinya. Sambil mencuci bungkusan itu, sang mama bertanya, “Mbak Za mau bantu?” anaknya mengangguk. Akhirnya sibuklah ibu dan anak tersebut dengan bungkus susu bekas. “Alhamdulillah seru anak tersebut, besok kita pakai untuk belajar bentuk ya Ma!”. “Oke, anak hebat”! seru ibunya sambil tersenyum dan memeluk anaknya.
Pemandangan yang mungkin jarang kita lihat atau di masa sekarang. Perempuan ini sedang mendidik anaknya. Bukannya hanya saat itu saja, tapi dilihat dari komentar sang anak, kebiasaan sang ibu sudah sering dia lihat. Kebiasaan tersebut akhirnya menjadi sebuah pola prilaku bagi sang anak. Subhanallah. Apa yang kita petik dari kisah ini?
Banyak sekali yang dapat kita ambil manfaat. Ibu dari si anak ternyata sudah menerapkan peduli lingkungan dari kecil. Sang ibu sudah menerapkan beberapa kemampuan bagi perkembangan anaknya. Pertama mengajak serta si anak terlibat dalam proses, dalam hal ini proses mengumpulkan sampah anorganik. Kedua menimbulkan sikap kreatif pada anak (dengan memanfaatkan barang bekas). Ketiga sikap disiplin pada anak (dalam hal ini disiplin memisahkan bungkus susu bekas untuk dikumpulkan). Hal ini terbukti ketika sang anak protes pada ibunya tentang bungkus susu di tempat sampah. Keempat, sang ibu juga ternyata membuat sang anak aktif berbuat dengan melibatkannya membantu. Kelima sang ibu juga mengajarkan sosialisasi yaitu kerjasama sederhana bersama ibunya dalam berkegiatan. Disadari atau tidak langsung sang ibu mangajarkan kemampuan afektif, kognitif dan psikomotor pada usia golden age, Subhanallah.........!.
Hanya sebuah kisah umum sederhana dan bisa terjadi dimana saja dan kapan saja, tetapi ternyata membawa manfaat yang besar untuk sang anak, jika bermasyarakat kelak. Seorang Ibu memang istimewa dan sangat istimewa. Pola kebiasaan ibu ketika mengandung dan merawat anak akan menjadi sebuah karakter bagi anak tersebut. Kebiasaan ibu membuang sampah pada tempatnya, memisahkan sampah atapun bahkan memanfaatkan sampah di rumah, akan menjadikan anak mempunyai kemampuan peduli terhadap sampah dan lingkungan sejak kecil. Seandainya semua ibu mempunyai rasa peduli sedemikian besar terhadap lingkungan mungkin tidak ada sampah berserak di jalan. Tak khayal lagi akan muncul anak-anak jaman yang peduli lingkungan, berhati bijak dalam memanfaatkan lingkungan.
Kita semua sebagai manusia memang menggunakan alam dan lingkungannya untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Yang sering dilupakan adalah kita memanfaatkan tanpa berpikir panjang bahwa masa yang akan datang juga membutuhkan lingkungan yang medukung kehidupan. Krisis lingkungan dewasa ini terjadi sebagian besar karena kesalahan individu/manusianya (human error) yang kurang peduli terhadap lingkungan. Salah satu sebabnya adalah pola kebiasaan dari kecil/ pola penanaman prilaku. Kebiasaan yang dilakukan rutin dan berkelanjutan ketika usia anak-anak akan menjadi sebuah pola prilaku dan berpikir ketika dewasa. Kebiasaan hal kecil saja misalnya, membuang bungkus permen di sembarang tempat (kemungkinan besar kebiasaan ketika masih nank-anak). Kalau kita renungkan membuang bungkus permen di sembarang tempat, kira-kira jika kita hitung berapa luas tanah yang akhirnya tidak dapat dimanfaatkan secara lestari dengan adanya sebungkus permen dalam areal tersebut?. Memang sebagian kecil orang dengan ikhlas memungut bungkus permen dan menempatkannya pada tempatnya “tempat sampah” namun sebagian yang lain seakan berlomba merusak lingkungan dengan sebuah bungkus permen.
Kalau kita melihat fenomena bungkus permen ini, sepertinya simpel, tetapi berefek besar. Bagaimana dengan kisah di atas? Seorang ibu dengan kodrat dan cintanya mendidik anak sehingga mampu mengurangi jumlah orang yang membuang bungkus permen di sembarang tempat, ibu tadi insyaAllah akan mengurangi jumlah orang yang merusak lingkungan. Dengan ijjin Allah pulalah ibu tadi berusaha menciptakan generasi berjiwa besar, kreatif, cerdas, mampu berkomunikasi, mampu bekerjasama, mampu mengingatkan dan mampu berusaha merubah diri untuk menjadi orang yang bermanfaat. Kita sebagai manusia tetap optimis berjuta-juta ibu mendidik anak untuk peduli lingkungan dan setiap hari akan bertambah jumlah ibu yang mencetak generasi peduli lingkungan. Karena Ibu mendidik kita dengan cinta, termasuk “cinta pada lingkungan”.



















