Aku di Sini, Menantimu…
( Jawaban, “sobat, tunggu aku” nya Nurul Islami di POTRET 44 )
Hari itu aku juga tengah bersiap-siap menemui dan berhadapan langsung dengan dirimu, di halaman mesjid Raya seperti yang telah kita sepakati. Bayangan di kala bertemu denganmu juga berkelabat kental di mataku, sebagaimana hayalan indah dirimu di pagi sebelum musibah maha dahsyat itu. Perasaan aku juga sangat berbunga-bunga ketika itu. Aku merasa akan mendapatkan kebahagiaan yang sangat menyenangkan saat berjumpa denganmu. Harapan-harapan indah menari-nari di pelupuk mataku. Hayalan-hayalan menyenangkan menemaninya. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana bentuk kebahagiaan itu. Sehingga aku suka senyam-senyum sendiri ketika sedang bersiap-siap untuk berangkat bertemu denganmu di pagi tanggal 24 itu..
Belakangan, saat itu, telah beberapa hari semenjak berbicara dengan kakakmu, aku suka menghayal dan membayangkan seorang kamu. Padahal sebelumnya aku nyaris tidak pernah merasakan hal seperti itu, suka membayangkan seseorang. Terlebih yang belum aku kenal. Konon lagi seorang perempuan. Perempuan, jujur, tidak begitu akrab dengan kehidupanku, kala itu. Meskipun hanya untuk seorang sahabat.
Aku lebih senang berkawan dengan teman yang sejenis dengan diriku, sama-sama lelaki. Sehingga teman-teman sering memplesetkan diriku dengan, “cowok takut cewek”. Itu tidak masalah begiku…
Namun, ketika kakakmu memperkenalkan dirimu kepadaku, aku penasaran ingin mengenal dan berteman akrab denganmu. Itu karena latar belakang dan kepribadianmu, yang aku tau dari pengakuan kakakmu, banyak kesamaan dengan diriku. Aku telah lama mendambakan seorang teman, dan menjadikannya sahabat dekat, orang yang bertipe seperti itu. Akan tetapi itu sangat payah ditemukan. Telah lama aku mencarinya. Namun tidak kunjung aku dapatkan.
Kriteria yang aku harapkan itu sebenarnya sederhana saja. Aku mendambakan orang yang pinter dan rendah hati. Aku sangat respek kepada orang yang sederhana dan bersahaja. Meskipun harus aku akui teman yang aku idamkan juga kalau bolehnya sedikit terkenal dan berprestasi. Terkenal dan berprestasi dalam hal baik tentunya. Banyak memang yang punya ciri-ciri demikian. Tapi biasanya satu hal yang jarang ada pada mereka, rendah hati. Aku sangat tidak suka itu. Kebanyakan dari mereka yang pinter dan terkenal lazimnya berteman dengan mereka yang juga seperti dirinya.
Nah, baru setelah kakakmu memperkenalkan dirimu padaku, aku mempunyai harapan akan bertemu dengan seorang teman akrab sebagaimana impian hatiku, punya karakter, kepribadian, pandangan, kesukaan dan banyak hal sama denganku.
Dalam hatiku, aku akan segera menemukannya pada dirimu. Aku akan sangat bahagia karenanya. Akan tetapi… takdir berkata lain. Ketika aku sedang mengeluarkan sepeda motorku untuk berangkat menemuimu… di situ nestapa bermula. Sangat memilukan dan menyedihkan. Aku tidak bisa mengungkapkan. Aku tidak sanggup melanjutkan ceritaku. Tidak sanggup... tidak sanggup… aku… aku… aku terjatuh tiba-tiba. Aku merasa dunia berputar sangat hebat. Bumi seakan diangkatkan ke angkasa dan ditunggingkan ke bawah. Dia ternyata tengah bergetar luar biasa. Dia bergoyang dengan kekuatan yang seumur hidupku belum pernah terjadi sebelumnya. Ternyata tengah terjadi gempa bumi dengan getaran kekuatan yang sangat luar biasa.
Pada saat terjatuh itulah… Tuhan berkehendak lain atas diriku. Rencana diriku ingin bertemu denganmu ternyata tidak mendapat restu dari-Nya. Tembok besar dinding rumah yang ada di sampingku ketika itu ambruk. Nahas, titik terberat dari tembok itu tepat menimpa kepalaku yang aku masih rebah di lantai tertidih sepeda motorku, “Allaaaaaaaaaaaaaah……… “ Cuma itu yang aku ingat kata-kata terakhir yang keluar dari tenggerokanku. Kemudian semuanya menjadi gelap dan diam. Aku tidak tau apa-apa lagi. Aku telah mati mungkin. Semua berakhir…
Setelah melewati waktu yang entah berapa lama, baru aku menyadari diriku telah berada di alam lain. Alam yang asing dengan alamku…
Aku mengamati dari sana apa yang tengah terjadi pada kaum yang telah beda alam denganku. Aku melihat mereka bersuka ria karena banyaknya para tetamu yang berkunjung ke tempat mereka, karena tempat mereka nampaknya baru saja tertimpa sebuah musibah raya. Mereka sangat senang karena para tamu itu membawa banyak oleh-oleh untuk mereka. Berebut mereka untuk mendapatkan oleh-oleh itu. Sayang, banyak juga di antara mereka yang tidak beruntung mendapatkannya. Padahal menurut amatanku mereka yang tidak mendapatkan itu, lebih berhak mendapatkan oleh-oleh tersebut. Karena mereka termasuk ahli dan karabat almarhum yang telah tiada dalam musibah itu. Justru yang banyak mendapatkan hadiah yang dibawa para tamu itu adalah mereka yang nyaris tidak ada sangkut pautnya dengan korban penyebab datangnya hadiah tersebut. Ironis!
Di antara kaum itu, aku menemukan seseorang yang nampaknya tengah sangat gelisah. Aku tidak melihat dia sibuk memperebutkan oleh-oleh itu. Malah dia sibuk dengan alam fikirannya sendiri. Dia seperti tengah memikirkan sesuatu yang sangat berat. Hanya dia sendiri yang tau apa yang tengah dipikirkan itu. Aura wajahnya menampakkan dia sangat berduka karena musibah tersebut.
Yang mencengangkan, dia seperti menyebut-nyebut nama seseorang. Dan yang lebih mencengangkan lagi nama yang disebutnya seperti ada dalam diriku. Aku merasa pernah mendengarkan orang memanggilku dengan nama itu.
Pada saat itu tiba-tiba alam pikiranku pun seperti terbang jauh ke belakang. Dia menarik-narik diriku untuk mengikutinya. Aku pun menuruti ajakan alam pikiranku itu. Kami sama-sama menuju ke sana, ke tempat yang sepertinya jauh di belakangku.
Dan, sesampainya di tempat berhentinya alam pikiranku itu, aku mendapatkan di hadapanku sebuah hamparan yang sangat luas. Dia terhalak tidak berbatas selayang mata memandang. Dan tiba-tiba aku merasa seperti pernah hidup di atas hamparan tersebut. Dan ternyata, hamparan itu adalah sebuah alam di mana aku melihat orang-orang penghuninya tengah berebutan oleh-oleh tadi.
Di situlah aku jelas melihat orang yang tengah celingukan dalam kesedihan yang amat sangat tadi. Dan benar, ternyata dia memang tengah memanggil-manggil namaku. Aku pun berubah menjadi sangat sedih karenanya, dengan tampa ku tahu apa gerangan yang menyebabkan kesedihan diriku. Dan kesedihan itu semakin lama semakin menjadi-jadi.
Pada saat itu pulalah aku benar-benar menyadari siapa dan di mana aku sekarang. Tangisan histeris pun membuncah. Aku sadar, sekarang aku telah mati dan hidup di alam lain. Ingatan akan semua keluargaku pun mengambang. Ibuku, bapakku, kakak adik dan semua orang dekatku. Dimana mereka kini? Apakah mereka telah senasib denganku?
Dan, dalam ingatan di antara bayangan itu terdapat sebuah fragmentasi yang beda, lain dari yang ada di sampingnya. Ternyata di situ adalah orang yang memanggil-manggil namaku tadi. Subhanallah… ternyata juga dia seorang perempuan muslimah yang nampaknya sangat solehah. Sangat cantik pula! Dia seolah seperti teresap dalam diriku. Menyatu di dalam jiwaku. Sehingga terasa seperti menjadi bagian dari diriku sepenuhnya. Dan begitulah selalu…… sampai kemarin, beberapa hari yang lalu, aku kembali menemukannya yang masih tetap memanggilku. Ya, aku di sini. Aku di sini, say….. datanglah ke mari…
Hmmmmmmmmm…………
( teruntuk kepada yang tengah sangat sedih karena kehilangan sahabatnya yang bernama pena “cacan”.
Tidak usah bersedih, ukh… Dunia dengan kehidupannya memang demikian. Itu sudah sunnatullah…
Dan maaf, ini tidak bermaksud mengganggu privasimu. Cuma sebatas ingin mencoba menghibur dirimu.
Dan mengasah kemampuan menulis dalam menggambarkan keadaan demikian tentunya!
Keep strong, honey… tetap semangat, sahabat, adikku, Nurul Islami! )


















