• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

PEREMPUAN MERAJUT DAMAI DI TANAH POSO

E-mail Print PDF

 

PEREMPUAN MERAJUT DAMAI DI TANAH POSO

Ruby Kholifah

Direktur Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia

1.30, terik matahari mengiringi langkah-langkah pendek sekelompok ibu berjalan beriringan menuruni jalanan tanah terjal di perbukitanPetirodongi,wilayah pemukiman baru yang dibuka setelah konflik pecah di Poso pada akhir tahun 1999. Langkah mereka menuju ke sebuah rumah kayu, khas Sulawesi yang hampir dua tahun ini difungsikan sebagai tempat , terletak kira-kira 100 meter dari kantor kelurahan Pamona Utara, kecamatan Tentena. Bukan keranjang belanja yang dijinjing. Namun buku dan alat tulis mengisi tas kecil yang diselipkan dibahu mereka. Sesekali langkah kecil mereka terhenti, untuk sekedar menyapa tetangganya “ terima kasih…kita mau ke sekolah”, Daiche, salah satu ibu menjawab dengan singkat. Tidak lama kemudian si penanya kembali bertanya,“ Sekolah? Mana ada ibu-ibu sekolah”, lanjut Rina (bukan nama asli) ingin memuaskan rasa penasarannya melihat pemandangan baru yang tidak pernah dijumpainya selama dia tinggal di pemukiman pengungsi konflik Poso. Tidak jarang, rasa penasaran itu masih membekas, sampai sore menjelang magrib ketika sekelompok ibu-ibu kembali melewati depan rumahnya usai sekolah. Kali ini Rina tidak menyia-nyiakan kesempatan.Dia langsung mencegat para ibu dan mengorek informasi selengkapnya tentang aktifitas sekolah perempuan yang mereka ikuti setiap hari Senin siang.

Jangan dibayangkan sebuah sekolah berdinding. Lengkap dengan bangku dan meja, dan kemudian ada seseorang berdiri di depan kelas, sebagai gurunya. Atau sebuah tempat kursus menjahit yang biasanya dipenuhi oleh remaja putus sekolah yang menaruh harapan setinggi langit akan perubahan nasib, ditengah jutaan usia produktif yang menganggur. Sekolah Perempuan Perdamaian, atau biasa disingkat SP (sekolah perempuan) adalah sebuah media belajar perempuan akar rumput yang berorientasi pada pengembangan ketrampilan kepemimpinan dan berorganisasi pada perempuan di Poso. Asian Muslim Action Network (AMAN Indonesia) awalnya menggulirkan konsep SP pada pertengahan tahun 2009.Gagasan awalnya memang menjadikan SP ini sebagai media pengkaderan para ibu dan membekali mereka dengan pengetahuan dan ketrampilan yang cukup untuk menjaga perdamaian di tanah Poso.Selintas memang terlihat ambisius.Namun, seiring dengan perkembangan metode, gagasan ini bukan isapan jempol. Penulis akan mengelaborasi bagaimana para ibu merajut kembali damai pada bagian diparagraph selanjutnya.

Penggunaan kata Sekolah sendiri dipakai dengan sengaja untuk memberikan kesan serius, berkelanjutan, dan terarah. Bagi banyak peserta yang punya keinginan sekolah, tapi tidak tersampaikan, nama sekolah sanggup mengikat semangat belajar mereka. Ada kerinduan yang dalam, hendak ditumpahkan melalui sekolah.Kata perempuan dilekatkan untuk mengindikasikan bahwa peserta didiknya adalah perempuan dan materi pembahasannya menyangkut masalah umum, namun melihat lebih dalam peran perempuan dalam pembangunan desa.Yang terakhir adalah kata perdamaian. Ini adalah subyek bahasan dalam sekolah yang mencakup kondisi aman dan nyaman, kemudahan akses kebutuhan pokok, ketersediaan fasilitas yang memadai, dan tertatanya sistem sosial dan budaya di masyarakat, sehingga setiap perempuan, laki-laki, remaja dan anak-anak dihargai keberadaannya, diberikan ruang berpendapat dan diperhatikan kesejahteraanya. Begitulah cita-cita para ibu setelah perjanjian damai Malino ditanda tangani pada tanggal 18-20 Desember 2001, di Malino, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Curhat adalah elemen penting di dalam proses belajar di SP. Sesi ini diletakkan pada pembuka setiap sesi belajar dengan tujuan melepaskan segala uneg-uneg mulai dari cek cok dengan tetangga, masalah anak, hutang yang menumpuk, kekerasan dalam rumah tangga, suami selingkuh, atau hal-hal yang menyenangkan seperti dapat rizki nomplok, merawat orang sakit, anak dapet rengking dan sebagainya. Curhat tidak dibatasi oleh tema.Curhat juga tidak ditanggapi.Atau bahkan mencari solusi bersama.Curhat di SP bak tempat sampah yang siap menerima jenis sampah apapun.Peserta SP tidak perlu merasa takut, was-was, gengsi, atau perasaan-perasaan lain yang tidak memerdekakan perempun untuk berekspresi.Disinilah siswa SP menemukan wadah “bebas nilai” yang dimiliki oleh semua perempuan yang terlibat di dalam SP.Curhat juga sebagai metode terapi banyak perempuan untuk melatih bicara. Menyusun kata demi kata secara hati-hati, agar apa yang dipikirkan dan dirasakan, bisa tersampaikan pesannya di forum. Awalnya tidak lancar.Canggung. Malu. Bingung apa yang musti dicurhatkan. Namun, kemudian “sharing” itu mengalir dari mulut ke mulut.Tak jarang air mata bercucuran sebagai ekspresi kesedihan atau terharu karena bahagia.Bahkan sering ditemukan beberapa ibu merangkul seorang ibu yang menangis sesenggukan karena kesedihan yang tidak tertahankan.Curhat juga sangat berperan menciptakan rasa percaya, rasa aman, saling memiliki, mengikat dan bahkan menjadi tempat satu-satunya bagi perempuan untuk berbagi rahasia.Semua orang belajar menyimpan rahasia temannya.Kesepakatan ini yang dibangun di SP.Kenyamanan seperti inilah yang membuat curhat cukup efektif memecah kebisuan komunikasi antar tetangga paska kerusuhan dan konflik Poso.Bahkan dengan tetangga yang berbeda agama sekalipun.Ini cikal bakal perdamaian.Karena urusan perdamaian adalah urusan hati.

Hati (jantung) adalah inti dari peacebuilding (pembangunan perdamaian).Olehkarenanya damai mensyaratkan hati yang lapang, untuk bisa mengakui kesalahan, memaafkan, menerima perbedaan dan bersama-sama merajut kembali masa depan yang lebih terbuka dan setara. Ini dibutuhkan sebongkah trust (kepercayaan).Trust inilah yang sedang dirajut secara perlahan oleh para ibu anggota SP melalui proses belajar intensif di Sekolah Perempuan Perdamaian.Bak setitik air membuat lobang di sebongkah batu.SP memfasilitasi para ibu untuk memperluas wawasan mereka tentang hal-hal tabu seperti konsep jihad, relasi dengan kelompok beda agama, dan aliran-aliran di dalam agama Islam dan Kristen. Semua materi disuguhkan dengan dua perspektif yaitu Islam dan Kristen.Selama ini orang selalu beranggapan bahwa konsep Jihad itu hanya dipunyai oleh kelompok Kristen.Munculnya “Laskar Kristus” untuk menghalau “Laskar Jihad” pada konflik Poso, bukan dari ideologi kosong.Tetapi dari sebuah ajaran “berjuang di jalan Tuhan” yang itu dipunyai baik di ajaran Kristen maupun Islam.“Dulu saya kira jihad orang muslim itu adalah membunuh orang Kristen, Setelah mendengarkan ceramah dari Ustadz Asri di SP saya baru sadar bahwa Islam tidak pernah mengajarkan membunuh orang”, ujar Neta, salah satu peserta SP. Neta mewakili ribuan orang yang terpaksa harus meninggalkan kampung halamannya karena konflik kekerasan secara membabi buta memberangus apa saja yang dilewatinya. Dengan berbekal harapan hidup yang tipis, Neta dan keluarganya memulai hidup jilid dua ditepian danau Poso di kelurahan Pamona Utara.

Bisu. Sepi. Ekspresi tegang. Duduk bergerombol dengan kelompoknya. Yang muslim berkumpul dengan yang muslim, begitu pula sebaliknya yang Kristen lebih nyaman dengan orang se-iman. Itulah suasana awal pertemuan antara perempuan Pamona (mayoritas Kristen) dan perempuan Malei Lage (mayoritas Muslim) di Hotel Wisata pada tanggal 20-23 Januari 2010.Sudah hampir tahun konflik kekerasan berlalu di Poso, namun prasangka dan distrust (rasa tidak percaya) masih bergelayutan di benak warga Poso. 45 peserta yang diundang oleh AMAN Indonesia dalam acara pembukaan SP ini, gambaran real situasi masyarakat secara luas. Simak saja kegalauan hati mereka pada hari pertama:

“Saya takut menyapa duluan. Karena Sesuatu bisa saja terjadi. Hati orang siapa tahu” (Reka, bukan nama asli dari Pamona/Kristen)

“Kita takut mereka tidak merespon kita, ketika kita sapa. Jadi kita diam saja dulu” (Aisyah, dari Malei/ Muslim)

“ Wow, tempatnya di Hotel Wisata, ini sarang musuh” (Nelli, Pamona/ Kristen)

“Siapa tahu siapa tahu toh…” (Hasanah, Malei/Muslim)

Narasi-narasi di atas mewakili sebuah kondisi hubungan sosial yang dingin.Tidak dekat dan berjarak atau sengaja berjarak.Menurut pengakuan para ibu, begitu konflik kekerasan pecah, mereka tidak pernah lagi berkomunikasi atau berhubungan dengan tetangganya yang berbeda agama.Hari itulah kali pertama mereka bertemu dalam satu forum dengan orang berbeda agama.Perasaan mereka seperti permen nano-nano. Ada asem, manis, pedes dan sebagainya. Namun mereka tetap mensyukuri perjumpaan ini, karena jauh di lubuk hati mereka, kerinduan untuk bersama dengan tetangga berbeda agama sudah lama termaktub.

Salah satu faktor sulitnya masyarakat saling bertemu karena ada kecenderungan sosial pergerakan para pengungsi membentuk cluster-cluster kecil berdasarkan pada keyakinan homogen, pemerintah lokal tidak bisa berbuat banyak. Akhirnya, apa yang terjadi, tanah poso terkapling-kapling sesuai dengan kepercayaan agama masing-masing. Yang agama Islam hidup di daerah sekitar pesisir kota, Poso Kota, Ampana, dll dimana muslim sebagai mayoritas secara normal hidup. Sementara kecamatan Tentena dijadikan basis berkumpulnya penduduk Kristen.Sulit dibayangkan bahwa jumlah penduduk Kelurahan Pamona Utara saja bisa mencapai 1121 keluarga. Ini melonjak tiga kali lipat dari jumlah semula 368 keluarga.

Menata hubungan bermasyarakat memang tidak mudah.Tetapi ini sesuatu yang niscaya.Harus ada keyakinan positif untuk memulai menata kembali serpihan-serpihan mozaik yang dikoyak oleh rasa dendam, adu domba, susupo (fitnah), dan kepentingan politik golongan semata. SP menawarkan perspektif baru dan metode menata masa depan bernama “Poso Baru”, dalam bahasa lokal berarti kuat karena ditopang oleh perbedaan (mengutip pendapatnya tokoh budaya lokal Bapak Timus). Penulis sengaja menggunakan kata Poso Baru untuk membedakan Poso yang lama yang sering disalahterjemahkan menjadi terpisah.Sehingga beberapa kalangan merasa sudah takdirnya Poso pecah, karena kata Poso diartikan pecah.

Langkah terberat dalam menerima perbedaan adalah dengan menggeluti perbedaan itu sendiri.Salah satu mata kuliah di SP adalah membedah keberagaman dalam perspektif keyakinan. Metode yang kita terapkan adalah kunjungan ke berbagai macam gereja aliran dan kelompok muslim dengan garis ideology yang berbeda. Tujuan satu yaitu belajar memahami keyakinan mereka dan praktek keyakinan yang mereka hidupi dan bagaimana para pengikutnya menerapkan dalam kehidupan bertetangga.Kunjungan ini juga sekaligus membukakan mata peserta SP sendiri bahwa di dalam agama Kristen sendiri perbedaan tidak bisa dihindarkan.Berdirinya gereja-gereja aliran, sebagai ekspresi perbedaan, yang bagaimanapun harus tetap diterima dan dilindungi, selama tidak mengarah pada sebuah tindak kekerasan. Begitu pula di kalangan Muslim, antara kelompok Aisyiah, Al-khaerat, NU, Mujahidin, juga mengusung keyakinan yang berbeda, namun sama pada prinsip-prinsip ajaran Islam.

Dalam kunjungan inilah secara perlahan penelusuran para ibu, menemukan bahwa kelompok Kristen gereja Advent sendiri punya konsep halal dan haram yang sangat ketat.Kelompok Aisyiah sendiri memberikan interpretasi yang berbeda tentang mengucapkan “selamat natal” dibandingkan dengan AL-khaerat yang menganggap itu bagian dari ekspresi menghargai perbedaan.Seorang pendeta di salah satu gereja yang dikunjungi oleh SP menungkapkan bahwa perbedaan-perbedaan itu seperti kebun bunga.Ada banyak bunga yang berbeda warna, bentuk dan baunya.Namun mereka tetap indah dalam satu wadah kebun dan bisa dinikmati oleh setiap orang memandangnya.

Elemen terbesar kedua dalam SP adalah proses transfer pengetahuan kepada anggota keluarga. Pengetahuan baru adalah harapan baru.Olehkarenanya ini wajib ditularkan pada seluruh anggota keluarga, agar rekonsiliasi perasaan bisa dimulai di dalam unit terkecil di masyarakat bernama keluarga.SP memfasilitasi proses transfer tersebut dengan menciptakan sebuah mekanisme unik bernama PR (pekerjaan rumah). Yang unik dari PR ini adalah pada proses penyelesaiannya yaitu disyaratkan untuk mendiskusikannya dengan anggota keluarga atau tetangga mereka. Jangan dibayangkan PR berhitung.Ini PR tentang kehidupan, agar antara istri, suami dan anak-anak tercipta sebuah komunikasi yang lancar.Karena dengan komunikasi yang lancer maka sekat-sekat distrust atau prasangka itu mulai terkikis.PR juga sebagai media sharing para siswa SP dengan suami dan anggota keluarganya yang lain, karena dengan mengerjakan PR, si suami dan anak-anak juga harus membaca materi yang sudah diajarkan di SP.Intinya, SP ingin sekali melihat komunikasi yang harmonis itu tercipta dari keluarga. Dengan begitu maka para siswa SP akan terlatih untuk berinteraksi yang lebih baik di masyarakat. “ Suami saya sudah tidak pernah lagi memukul saya dan anak-anak saya, setelah dia membaca UU no. 23/ 2004 tentang perlindungan korban kekerasan dalam rumah tangga,” Mama Asni sambil melirik suraminya yang sedang membawa nampan berisi minum untuk penulis pada kunjungan monitoring program ke Poso pada akhir Desember 2010. Jika dua puluh lima keluarga di Poso saat ini menjalani proses ini, maka Poso tanah damai adalah niscaya. ***


 

 

 

Top Menu


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

ARTICLE


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

Layanan Iklan POTRET

 

Polling

Bagaimana menurut anda POTRET Edisi 53?