Mengimpor Politik Jorok Malaysia?
Oleh Risman A.Rahman
Dari kabar-kabare sudut warung kopi mulai terdengar desas-sesus bahwa orang yang disebut dengan sandi “burung seribu kaki” pernah “terbang tinggi” usai “mematokmanok potong.” Perempuan kembali hanya menjadi objek politik untuk kepentingan politik lelaki?
Jika ada yang bertanya seberapa dekat hubungan Aceh dengan Malaysia pasti akan dijawab “sangat dekat.” Ukuran yang paling asyik untuk itu adalah soal sejarah yang kemudian berpengaruh pada kejiwaan.Dari sinilah ekpresi kedekatan bisa dirasakan.
Dari sebuah blog yang dikelola oleh sosok yang menamakan dirinya Shamil Haji Murad pada aboutnya tertulis “Persaudaraan antara rakyat Aceh dengan rakyat Malaysia sudah terjalin selama berabad-abad lamanya, dan insya Allah akan terus terjalin selamanya.” Dari blog ini juga bisa dilihat bagaimana rasa kedekatan itu diekpresikan lewat tulisan-tulisan yang menegaskan rasa saling mendukung baik kala Aceh berkonflik dengan Indonesia atau sebaliknya, kala Malaysia berkonflik dengan Indonesia.
Pernah juga ada pemandangan yang juga melukiskan rasa kedekatan perasaan antara Aceh dan Malaysia. Saat pertandingan bola antara Tim Garuda Indonesia melawan Tim Harimau Malaysia ada orang-orang Aceh yang berharap Malaysia bisa mengalahkan Indonesia. Begitu bola bersarang di jala gawang Indonesia maka secara reflek ekspresi kedekatan itu “muncrat “ lewat teriakan senang gembira.
Apakah rasa itu menjadi masalah dalam konteks perasaan kebangsaan? Bisa jadi ia. Tapi juga bukan menjadi satu-satunya indikator bahwa rasa keindonesiaan orang Aceh sudah pupus.Bermasalah mungkin iya, tapi pupus sudah rasa Indonesia jelas sebuah generalisasi yang sesat.
Bukti kedekatan lain adalah, keduanya sama-sama menjadikan syariat agama sebagai landasan dan spirit serta branding wilayah serta identitas diri.
Begitu dekatnya, pengaruh-pengaruh politik pun bisa saling menginspirasi.Kabarnya, jaman dulu Aceh lebih banyak menjadi inspirasi bagi Malaysia dalam tata kelola politik.Sekarang kabarnya, Malaysia menjadi pihak yang menjadi inspirasi bagi perpolitikan Aceh.Jelas tidak dominan, tapi rasa itu bisa ditelusuri keberadaannya lewat orientasi politik dan kebijakan politik.
Lantas, bagaimana dengan politik jorok yang sudah lama menjadi trend politik Malaysia. Saat ini Anwar Ibrahim dari partai oposisi kembali dilanda isu tak sedap soal seks yang olehnya disebut sebagai “politik jorok” yang dimainkan oleh kubu politik penguasa untuk menjatuhkannya dalam pilihan raya. Apakah politik jorok ini juga akan menjadi inspirasi bagi Aceh di musim Pilkada 2011?
Dari “haba-kabaro” sudut warung kopi mulai terdengar desas-sesus bahwa orang yang disebut dengan sandi “burung seribu kaki” pernah “terbang tinggi” usai “mematok ayam potong.” Aneh, ada pula sandi “burung kaki seribu (buka seribu).” Macam beutoi aja…halaghhh
Meski baru sekedar “haba-kabaro” di warung kopi bisa menjadi petunjuk bahwa perempuan masih ditempatkan sebatas penyebab dari sebuah peristiwa politik dan belum sebagai aktor politik yang setara. Ini menjadi “pekerjaan semua” laki dan perempuan untuk terus mendorong tumbuhnya iklim politik yang sehat di Tanoh Indatu Raja dan Ratu, Sultan dan Sultanah, Ayah dan Poma sehingga Politik Aceh tetap memiliki harga yang tinggi dalam jagad politik nasional setelah sebelumnya ragam ide dan praktek politik Aceh kerap menjadi inspirasi bagi terjadinya politik perubahan dan perubahan politik di Indonesia.
Jadi, Aceh tidak ada alasan untuk mengimpor politik jorok yang lagi nge-trend di Malaysia dan juga Indonesia bersebab Aceh adalah negeri dengan “pelabuhan politik” yang bisa terus mengekspor politik cerdas.
*Manok = ayam
*Haba kabaro = plesetan humor dari kabar kabari




















