• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Surat Untuk Ibu

E-mail Print PDF

Surat Untuk Ibu

Oleh : Cicik Novita

Ganjil rasanya Bu, jika aku harus bercerita tentangmu. Bukan apa-apa, hanya saja kita memang jarang sekali berbagi cerita di rumah yah? Kebiasaan untuk saling terbuka dan mencurahkan isi hati serta perasaan, ataupun masalah yang sedang kita alami, tidak sering kita lakukan. Bila tidak bisa dikatakan tidak pernah sama sekali. Hubungan kita sebagai anak dan orangtua rasanya terlalu formal. Seperti hubungan antara komandan dan anak buah, atau bos dan pegawai. Atau bahkan (maaf), seperti majikan dan pesuruh.

Mungkin aku terlalu berlebihan ya, Bu, maafkan. Tapi, jika ingin aku jujur, seperti itulah perasaanku pada engkau. Tapi tenang saja Bu, aku tetap menyayangi ibu dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ibu miliki kok. Seperti aku yang juga tidak sempurna sebagai seorang anak. Hingga belum bisa dikategorikan sebagai anak yang sholehah. Mungkin sifat keras kita ini karena bentukan dari lingkungan tempat kita tinggal ya, Bu? Seingatku, sejak masa mudamu, ibu yang kala itu baru saja dilantik menjadi pegawai negri dan mengabdikan diri sebagai bidan di kota Bapak, ternyata lantas jatuh hati dan memutuskan menikah dengan beliau.

Karir yang sedang ibu rintis itu kemudian harus ibu tinggalkan karena mengikuti Bapak yang bertugas ke ujung timur Indonesia, Papua. Aku dapat membayangkan keadaan yang harus ibu hadapi saat itu, Bu, sekitar 39 tahun yang lalu. Sebagai perempuan muda yang harus meninggalkan keramaian kota di tanah Jawa, dan harus merintis kehidupan sebagai seorang istri prajurit di tanah yang terkenal rawan saat itu, tentu berat. Sangat berat malah.

Mungkin itulah yang membuat ibu berubah menjadi sosok yang tegas dan teguh. Bahkan rasanya, saat aku kecil, ibu sudah mengajarkan aku untuk mandiri dan mengurus diriku sendiri. Seperti kakak, yang terpaut lima tahun dariku. Sungguh, Bu, aku tidak menyesali ketegasan dan sifat keras yang kau miliki. Karena di balik ketegasanmu itu, aku sadar sekali bahwa engkau adalah sosok yang lembut dan penuh kasih sayang. Sosok yang sangat penuh perhatian. Tidak Bu, aku tidak sedang melebih-lebihkan kok. Aku sering melihat dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana ibu merawat pasien-pasienmu di Papua sana.

Sering, malam-malam buta, saat kami sedang lelap dalam tidur nyenyak kami, ketukan keras di pintu membangunkan ibu karena ada perempuan yang hendak melahirkan dan butuh pertolonganmu. Atau lain hari, ada anak kecil yang kejang karena panas tinggi, yang juga membutuhkan perhatianmu. Di saat yang sama, ibu juga harus tetap mengurus kami, aku dan kakak, yang jelas sekali bukan anak yang terbiasa duduk manis jika engkau sedang bekerja.

Beberapa kali, saat aku pulang sekolah dan tidak mendapati dirimu di rumah karena masih bertugas di klinik asrama, maka, dengan beberapa teman asli Papuaku, aku akan naik ke bukit yang ada di belakang asrama tempat kita tinggal. Tidak terlalu tinggi sebenarnya, namun juga tidak rendah bukit itu. Biasanya, saat ibu pulang kerja dan tidak menemukan aku dirumah, entah bagaimana caranya, selalu saja dirimu tahu dimana aku berpetualang. Maka, ibu akan bermotor ke bawah bukit curam itu dan berseru-seru menyuruhku turun.

Aku yang tertangkap basah sedang duduk santai di puncak bukit dan melihat ibu di bawah sedang melambai-lambai, akan turun dengan segera, karena tahu, sebuah jeweran dari mu akan menyambutku di bawah. Nakal ya Bu, maafkan. Tapi jujur, aku melakukan itu karena merasa kesepian di rumah, dan menemukan kedamaian di puncak bukit itu bersama kawan-kawan Papuaku.

Tentang mengapa Ibu bagiku bagaikan komandan pada anak buahnya, hmmm… Mungkin karena ibu lebih sering sekali sendirian di rumah, dan harus mengurus kami, serta begitu banyak hal lainnya saat Bapak sedang tugas berbulan-bulan ke pedalaman. Ya, pasti itu yang membuat engkau selalu ingin dipatuhi keinginan dan perintahnya. Karena tanggung jawab sebagai pemimpin rumah tangga sedang dialihkan dari pundak Bapak ke pundakmu, Bu. Pasti itu yang membuat ibu begitu marah jika kami, aku dan kakak, sering bandel dan membantah, atau menawar apa yang ibu perintahkan pada kami.

Bu, sekarang, saat satu-satu uban mulai tumbuh di mahkotamu, dan satu-satu kerutan terukir di wajah tegarmu, aku baru sadar, betapa sebenarnya beban yang engkau pikul ternyata lebih berat dari pada yang aku ceritakan di atas. Sungguh, sekarang, saat aku juga sudah menjadi seorang ibu, aku baru menyadari betapa ibu sudah bekerja dengan sangat berat, dulu. Sebagai pendamping Bapak; seorang prajurit di daerah terpencil yang rawan kerusuhan, sebagai Ibu bagi kami; aku dan kakak, dua orang anak dengan segudang kenakalan, dan sebagai seorang Bidan; perawat bagi pasien-pasienmu. Aku tidak akan mampu rasanya Bu, jika semua beban itu saat ini harus aku pikul. Aku tidak akan sekuat dirimu.

Maafkan aku ya Bu, jika belum mampu jadi anak yang membanggakan, atau membuat ibu bahagia. Maafkan aku Bu, atas segala kenakalan, kata-kata yang menyakiti, serta air mata yang pernah menetes karena aku. Rasanya segala doa kami untuk bahagiamu, kesehatanmu, keselamatanmu, tidak akan pernah mampu menutupi sepersepuluh saja pengorbananmu bagi ku, bagi kami semua.

Terlalu besar Bu, pun terlalu mulia segala pengorbananmu, jika hanya do'a sederhana kami itu yang jadi balasan kami atas segala pengorbananmu. Allah saja Bu, harapan kami, yang mampu membalas semuanya. Ya, hanya Allah saja. Tapi satu pintaku Bu, tetaplah do'akan agar aku dapat menjadi anakmu yang sholehah, yang kelak dapat terus menjadi pengiringmu di dunia, sampai ke akhirat kelak. Karena aku tak bisa membayangkan diriku jika jauh darimu. Tak sanggup, Bu. Jadi, jangan berhenti mendo'akan aku ya Bu…

Salam, anakmu.

Cicik Novita, Mojokerto

 

 

Top Menu


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

ARTICLE


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday142
mod_vvisit_counterYesterday763
mod_vvisit_counterThis week3984
mod_vvisit_counterLast week4685
mod_vvisit_counterThis month16474
mod_vvisit_counterLast month25038
mod_vvisit_counterAll days850892

Layanan Iklan POTRET

 

Polling

Bagaimana menurut anda POTRET Edisi 53?