BUKAN LAKI-LAKI SAJA
Oleh : Ansari Nur
Anggota Kelompok Perempuan Usaha Kecil (KPUK ) Amaliyah
Desa Paya, kecamatan Manggeng, Aceh Barat Daya
Perkawinan bukankah semuanya bahagia, juga tidak sedikit yang dirundung duka nestapa atau penderitaaan. Karena latar belakang sebuah perkawinan tidak selamanya karena didasari cinta. Sehingga banyak pengalaman pahit yang harus dijalani oleh pasangan suami isteri. Pengalaman pahit itu adalah apa yang pernah aku rasakan. Tak salah kata pepatah “kawin cinta, bahagia. Kawin paksa hidup sengsara dan menderita”.
Pernikahan ku, berawal dari sebuah kejadian. Pada suatu hari, seorang pemuda lewat di depan rumahku. Sambil lewat, ia pun melihatku. Entah ia sengaja atau memang tidak, pandangannya itu tertuju padaku dan ia terus berlalu. Keesokan harinya, ia langsung datang lagi dan anehnya keluarganya melamarku kepada saudaraku. Lalu, saudarakupun bertanya kepadaku, “Apakah kamu mau menikah dengan pemudamu itu?” Akupun menjawab tidak. “Aku tidak mau menikah dengannya”. Namun, entah mengapa pula, orang tuaku dan saudara yang lainnya terus membujukku agar kau mau menikah dengan laki-laki itu. Bukan hanya membujuk, tetapi sekalian memaksaku. Tak lama akupun terpaksa menerimanya.
Dalam waktu yang begitu singkat, acara pernikahan pun berlangsung. Beberapa bulan kemudian aku pun hamil anak pertama. Di awal pernikahan ku itu, yang kurasakan buakanlah kebahagiaan. Suamiku membuat hidupku menjadi sulit. Aku sangat gelisah karena aku tidak punya uang karena suamiku tidak pernah memberikan uang belanja. Aku merasa bahwa aku tidak bahagia hidup dengannya. Namun, aku coba lewati juga dengan segala ketabahan hatiku.
Sembilan bulan kemudian, aku melahirkan seorang anak laki-laki. Ya Allah, seminggu setelah aku melahirkan, akupun tertimpa penyakit yang begitu aneh. Aku tak sadarkan diri dan hilang ingatan begitu saja. Sehingga, anakku diasuh oleh kakak dan ibuku. Dalam kondisi seperti itu, suamiku pergi begitu saja tanpa meninggalkan uang untuk belanja. Jangankan uang untuk belanja, untuk membeli susu anak pun tidak dia tinggalkan. Lebih parahnya lagi, satu pesanpun tidak diucapkan padaku sebagai tanda kepergiannya.
Allah akhirnya memberikan anugerahnya kepadaku. Tak lama kepergiannya penyakitpun pulih dengan baik. Sejalan dengan kesembuhanku, suamiku juga pulang. Ia pulang untuk mengajakku pulang ke kampung ibunya yang bisa ku sebut mertuaku. Akupun ikut bersamanya. Setelah tinggal di sana, apa ia menjadi membeban hidupku. Ia mengambil peran menjaga anak di rumah. Sedang aku berperan mencari nafkah. Ini juga aku jalani. Kami hidup bersama lagi dan kemudian hamil lagi.
Dua tahun kemudian akupun melahirkan anak kedua. Juga laki-laki, setelah anakku pun lahir dan berumur sekitar 30 hari. Pada malam yang ke 31 nya, ketika aku baru pulang dari kebon, usai memetik cabe dan kopi, aku sangat capek dan lelah. Aku mandi dan shalat maghrib dan satu jam kemudian aku shalat isya dan langsung . Baru saja aku tidur, tiba-tiba suamiku masuk ke kamar. Ia memegang tanganku dan memegang rambutku. Aku berteriak dan menjerit sekeras kerasnya. Ia menyeretku ke luar kamar dan tangannya pun masih di rambutku.
Aku tak sanggup dengan tingkah lakunya yang tidak berubah-ubah itu. Malam itu pun aku pergi ke rumah orang tuanya dan menceritakan semuanya. Mertuaku berkata “lebih baik kamu pulang saja ke rumah ibumu ke Manggeng”. Akupun juga berbicara“ baiklah bu besok aku akan kembali ke sana, tetapi pada malam ini izinkan aku tidur di sini” ibuku berbicara bahwa itu sudah tentu.
Keesokan harinya aku plang ke rumah orang tuaku. Seminggu di sana aku disuruh pulang kembali ke rumah suami ku. Mungkin di rumah sudah berantakan sekali. Akupun pulang ke sana dan sekitar 2 hari di rumah suami ku dia mengajakku untuk tinggal di Manggeng. Tetapi apa yang terjadi setelah di sini ahklaknya juga tidak berubah.
Dalam kesusahan, aku berusaha mencari jalan untuk bisa keluar dari semua ini. Aku juga ingin mencari jalan bagaimana agar pikiranku bisa lebih terbuka. Untunglah, seorang kawan mengajakku bergabung dengan CCDE. Aku saat itu belum tahu apa itu CCDE. Namu aku coba hadir di setiap pertemuan bulanan. Aku ikut kegiatan diskusi dan pertemuan lainnya di kelompok. Aku juga pernah ikut pelatihan di Training Center CCDE di Banda Aceh. Semua ini aku lalui dan menemukan manfaatnya. Aku mulai bersemangat. Temanpun kian bertambah. Aku kemudian bisa menemukan teman bertukar pikiran bersama.
Aku kemudian meminjam uang di CCDE untuk modal usaha dagang. Aku membeli baju di toko dan dijual di kampung-kampung. Untungnya pun tidak seberapa. Aku rajin menabung. Hasil tabungan itu, aku beli tanah rumah. Aku mendapat rumah jatah bantuan. Aku tetap menjalankan usahaku seperti biasa.
Aku sudah berubah. Tetapi suamiku tidak. Sikapnya, bagiku parah. Dalam beberapa bulan ini, aku pergi bertujuan mencari nafkah. Tetapi, suamiku menganggapku pergi menjual diri kepada laki-laki lain. Ia selalu membicarakan aku kepada orang lain dan mengatakan yang jelek-jelek yang membuat hati ini sakit. Pada siapa aku mengadu?






















