CCDE - Center For Community Development and Education
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

E-mail Print PDF

Nafas Kebahagiaanku

Oleh :Supina

Lamceu, Kabupaten Aceh Besar

Sembilan tahun lamanya aku hidup bahagia bersama suamiku. Meski banyak cobaan yang kami hadapi, kami tetap melewatinya bersama. Namun kebahagiaan itu tidak cukup dan tidak sempurna, tanpa kehadiran buah hati yang menjadi harapan di masa depan. Harta yang tiada pernah dinilai harganya, tempat berteduh di kala panas membakar harta di kala miskin. Namun betapa sedihnya dan pilu aku dan suami tercinta karena sampai sekarang Tuhan belum memberikan kami kebahagian itu. Tak kuasa menerima cobaan itu akhirnya aku berobat demi harapan kami. Aku berusaha semampu ku, agar aku bisa memberikan suamiku anugrah itu dan memberikan cucu kepada kedua orang tua kami, karena kami anak pertama dari keluraga yang menikah terlalu lama menanti. Akhirnya aku dan suamiku memutuskan untuk sama-sama berusaha. Kami menempuh berbagai alternative yang ada.

 

Banyak cara yang telah kami lakukan, tetapi alangkah naasnya, ternya ta malah penyakit menyerang. Ketika puncak konflik tiba, di mana-mana banyak terdengar bom yang membuatku tidak bisa memejamkan mataku. Hari demi hari terus saja berjalan, waktu terus saja berputar, hari berganti minggu dan sampai berbulan-bulan kondisi mencekam itu tidak kunjung reda. Kondisiku makin lemah. Tepat tengah malam, aku dilarikan ke rumah sakit di Langsa, karena aku telah pingsan dan tidak sadarkan diri. Hingga beberapa hari di rumah sakit. Kemudian beberapa keluargaku yang lain berdatangan dan waktu itu dokter memutuskan melakukan ronsen terhadap jantungku. Aku didorong ke suatu ruangan yang dilengkapi dengan peralatan medis lengkap. Beberapa hari kemudian dokter memvonisku, aku mengalami serangan jantung dan sudah sangat telat penanganannya. Betapa perih dan hancurnya hatiku mendengar hal itu. Rasanya terlalu sulit menerima kenyataan itu. Tetapi apa hendak dikata, kesusahanpun datang dari Tuhan. Aku hanya harus sabar dan kuat menerima kenyataan itu. Kenyataan yang paling berat ku hadapi bahwa aku tidak bisa memiliki seorang anak.

Setelah dirawat beberapa malam dan dokter mengatakan bahwa kondisi ku semakin membaik. Setelah 15 hari dirawat, aku diperbolehkan pulang. Meski sedikit bahagia, tapi bathinku makin tersiksa. Bagaimana jika nantinya aku meninggalkan suamiku tanpa meninggalkan seorang penyejuk hati. Akhirnya aku memutuskan untuk mencari solusi yang baik, Seseorang menyarankan kami untuk menggunakan beberapa produk dan karena keinginan yang kuat akhirnya kami berdua mencobanya. Memasuki 8 tahun pernikahan kami, aku memeriksakan kondisi ke dokter dan melakukan tes urine. Alhasil, aku positif hamil, Tak bisa kusembunyikan kebahagiaan itu terpancarkan. Begitu tiba di rumah aku memberitahukan suamiku. Alangkah bahagianya dia. Kebahagiaan yang belum pernah kami rasakan dan kebahagiaan itu bukanlah untuk kami rasakan berdua. Tetapi semua keluarga kami ikut merasakan. Hari demi hari melewati hanya kebahagiaan yang kurasa, tetapi keadaaan semakin memburuk, serangan jantung datang berkali-kali.

Aku rutin keluar masuk rumah sakit. Dengan sabar dan tabah menanti datangnya anugrah itu. Hari-hari semakin dekat, perasaanku bercampur aduk dan persiapan untuk bersalin pun sudah aku persiapkan dengan baik. Rasanya, semakin tak sabar ku menantinya.

Malam kebahagiaan itupun datang. Kebahagiaan yang tidak pernah tergantikan. Mempunyai seorang yang sangat ku idam-idamkan sampai anakku berusia 3 bulan, aku baik-baik saja. Namun, akankah Tuhan merenggut itu semua dariku karena kondisiku semakin lemah.

Suatu malam rasa sakit itu tak bisa tetahankan lagi hingga aku jatuh pingsan, Akupun kembali masuk rumah sakit. Tubuhku semakin semakin kurus. Di tanganku terpasang selang infuse hingga aku tak sadarkan diri beberapa hari. Selama kurang lebih tiga bulan aku berada disana, namun biayanya juga menjadi suatu kendala dan keluargaku memutuskan membawa pulang aku dan melanjutkan perawatan di rumah. Akan tetapi, ketika hari-hari di rumah, aku hanya terbaring. Mataku terbuka. Tanpa sengaja aku mendengar orang-orang yang ku cintai berbicara. Sakit itu semakin menusuk tulang-tulang. Mengapa semua orang yang ku cintai bersedih, menangis? Kepiluan itu semakin kurasakan. Rasa sakit yang amat sangat hingga ku bertanya. Apakah aku akan meninggalkan dunia hari ini?

 

Comments (0)
Only registered users can write comments!