KAPAN DERITA INI BERAKHIR....?
Erlina
Kpuk Bungong Han Layee
Perumnas Ujung Batee-Aceh Besar
Namaku Erlina, umurku 28 tahun. Aku tinggal disebuah rumah yang amat sangat sederhana. Rumah bantuan yang berdinding asbes itu ku tempati bersama dengan dua orang anakku yang masih balita. Aku tak punya penghasilan dan pekerjaan untuk menghidupi anak-anakku yang sudah yatim. Suamiku telah meninggalkan aku sejak peristiwa Tsunami pada 26 Desember 2004 lalu di kampung Mulia Banda Aceh. Sekarang aku hidup hanya mengharapkan belas kasih dari saudara dan juga ibuku yang sudah tua . Ia juga masih menanggung hidup seorang adik perempuan yang masih sangat bergantung hidup padanya. Sedangkan aku sendiri, tak bisa berbuat banyak untuk keluargaku, karena aku menderita suatu penyakit yang menurut ilmu kedokteran dinamakan dengan Osteomylitis Cronis atau disebut juga dengan Peradangan tulang. Aku tak tahu apa jenis dari penyakit itu. Tapi yang pasti karena sakit di kaki kananku itulah yang membuat aku sulit bergerak bekerja.
Kaki kananku itu sering kali tidak bisa kupakai berjalan, karena bengkak dan bernanah. Dia mengeluarkan bau yang tak sedap, membuat aku malu untuk keluar rumah. Apalagi berkumpul dengan orang banyak. Semua itu bermula ketika aku berada di pengungsian di desa Neuheun, 4 bulan setelah tsunami. Awalnya karena terpijak paku. Aku tak menyangka sakit itu menggerogoti kaki kananku sudah hampir 3 tahun lamanya. Aku selalu berusaha untuk mengobatinya, tapi tak sembuh-sembuh juga. Bahkan kakiku pernah dioperasi di rumah sakit, dengan menggunakan uang dari belas kasihan orang untuk anak-anakku. Tapi entah mengapa sakit itu datang lagi. Aku mulai khawatir dengan keadaan ini, apakah aku harus selamanya begini?
Untuk mengobati kakiku, aku harus ke dokter dua kali dalam seminggu. Dan itu memakan biaya sebesar Rp. 150.000,- untuk setiap kali berobat. Dari mana aku harus mendapatkan uang sebanyak itu? Untuk makan saja sudah tak cukup. Tapi kalau tak diobati, maka dia akan bertambah bengkak terus. Dokter juga menganjurkan aku untuk disedot lukanya. Tetapi tentu saja aku tak punya cukup biaya untuk itu. Akhirnya aku hanya bisa menunggu dan pasrah.
Oh ya, selama aku menjalankan pengobatan, aku diberikan obat resep dokter yang kadang-kadang harganya mahal sekali. Dan anehnya lagi, obat itu membuat aku jadi alergi terhadap daging, udang, telur, ayam, bebek dan juga jenis ikan tertentu. Apabila aku lupa, maka luka itu menjadi gatal dan berair. Kulit mukakupun bengkak dan gembung air seperti luka bakar atau luka karena kena air atau minyak panas. Jadilah muka ku berparut dan tak mulus lagi. Derita ini silih berganti datangnya....
Pernah suatu kali aku dianjurkan untuk datang ke Dinas Sosial atau Kantor Gubernur, tapi aku malu datang kesana. Apalagi sekarang banyak yang bukan korban tsunami datang dan mengaku menjadi korban tsunami hanya untuk mendapatkan bantuan berupa uang dan rumah. Dan menjadi harapan buatku. Aku juga punya harapan lain yang besar untuk masa depan anak-anakku. Yaitu aku ingin punya usaha yang bisa menghidupi aku dan keluargaku. Tapi siapakah yang mau menolong aku? Sebagai insan yang percaya kepada Allah, aku selalu berdoa agar aku terlepas dari derita ini. Aku sadar sebenarnya bahwa Allah Maha Mendengar. Setiap musibah, pasti ada hikmah.
Sebenarnya, aku sangat berkeinginan ikut serta dalam berbagai kegiatan pelatihan yang dilakukan oleh CCDE untuk para permpuan dari kampungku. Aku selalu berharap untuk bisa ikut. Tetapi hatiku merasa malu. Hmm, aku ingin sekali mengikuti pelatihan itu, tetapi aku takut dengan keadaanku ini. Apalagi kaki bengkak ini tak sanggup diajak berjalan jauh. Andai aku bisa berharap kepada para pembaca dan para dermawan, aku sangat berharap ada pihak yang mau membantuku keluar dari penderitaan ini. Para pembaca yang budiman...adakah kiranya diantara anda yang peduli dengan nasib seorang janda tsunami seperti diriku ini? Ya Allah, bukakanlah hati mereka. Aku sangat membutuhkan bantuan Mu ya Allah.[]


















