CCDE - Center For Community Development and Education
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

E-mail Print PDF

KAKAKKU SAYANG KAKAKKU MALANG

Oleh: Husni

Kpuk Lestari-Lamlagang. Banda Aceh

Aku dilahirkan di sebuah desa dalam keluarga yang kurang mampu. Aku mempunyai abang, kakak dan adik. Salah seorang dari kakak ku, katakanlah namanya kak ita . Kak Ita ini dipungut oleh adiknya mamak yang kami panggil dengan sebutan bunda. Kami semua tujuh bersaudara. Semua kami dibesarkan oleh bunda, karena bunda ini tidak diberikan keturunan (anak) sampai sekarang. Walau kami sama-sama dibesarkan oleh bunda, tetapi kak Ita ini memang sudah diangkat menjadi anak. Kami pulang lagi ke rumah mamak dan ayah kalau sudah mulai sekolah, walaupun semua keperluan boleh kami minta sama bunda.

Kak Ita masa kecilnya sangat bahagia dibandingkan kami. Apa saja kak Ita punya. Sepeda baru, baju bagus, sampai ke perhiasan ( emas ) dia punya. Pernah waktu kak Ita duduk di bangku S M P, saya masih kelas III SD. Waktu itu ,kak Ita dibeliin kalung dan gelang tangan oleh bunda. Untuk menghibur hatiku, kata bunda gelang itu bisa pakai oleh siapa saja. Pada suatu hari aku minta pinjam gelang itu, tapi kak Ita tidak memberikannya sampai saya menangis- nangis, hati saya sangat sedih sekali.

Setelah tamat S M P, kak Ita disekolahkan ke kota yang jauh dari kota tempat tinggal ku. Katakanlah kota besar. Kak Ita masuk kesekolah S P G. Pada saat itu lagi rame-ramenya orang dari desaku, menuju kota besar untuk masuk sekolah S P G. Kak Ita berhasil mujur rupanya lewat tes. Sekali lagi aku bilang kak Ita sungguh senang nasibnya. Dia tidak dititipkan di rumah saudara, tapi dia dimasukkan ke asrama yang ada di kota besar. Waktu terus berlalu tanpa terasa sudah setahun kak Ita sekolah di S P G, waktu libur panjang dia pulang ke kampung. Waktu kami melihat keadaan kak Ita, tak ada satupun perhiasan yang dibawa dulu, yang melekat di badannya. Jangankan gelang, kalung, anting-anting yang kecilpun sudah tak ada. Sewaktu ditanyakan oleh bunda, jawabannya sudah hilang...yah...sudahlah besok kita beli yang lain, ujar bunda.

Sehari, dua, tiga hari waktu liburanpun usai, kakakku harus kembali ke kota B, untuk melanjutkan sekolah lagi. Kakakku diantar oleh bunda dan dibekali lagi dengan perhiasan. Setelah dua hari di kota B, bunda pulang dan kakakku kembali bersekolah sampai datang masa liburan lagi. Kakakku pulang dengan perhiasan habis lagi. Tanpa terasa kakakku memasuki tahun ketiga, dan kakakku mulai praktek ke sekolah-sekolah. Disini bunda mulai was-was, kenapa semua yang ada pada kak Ita bisa habis. Kemana dibawanya dan apa yang terjadi dengan kakakku?.

Akhirnya bunda memutuskan mendatangi sekolah dan bertemu dengan kepala sekolah. Disini bunda mulai mengetahui kelakuan kakakku. Rupanya kakakku sering tidak masuk sekolah dan suka pacaran. Malah dia pernah manjat pintu asrama untuk bisa keluar dan perhiasannya habis ia berikan untuk pacarnya. Masih dalam kegiatan praktek mengajar, kakakku menyatakan mau menikah dan tidak mau sekolah lagi.

Bunda menangis, karena bunda berharap kakakku jadi orang. Setidaknya menjadi seorang guru sudah lumayan. Tapi kakakku tidak bisa dibujuk lagi, akhirnya kakakku menikah juga dengan pacarnya itu.

Setelah enam bulan menikah, kakakku membawa pulang suaminya. Waktu itu aku masih duduk dibangku SMP kelas I. Aku tidak menyukai abang iparku itu, karena tanpa diketahui oleh kakakku, abang iparku sering menggoda aku dan teman-temanku yang sering main ke rumah. Bunda tidak puas dengan pernikahan kakakku. Dia ingin melanjutkan pendidikan kakak ke kota lain yang tidak tau tentang status kakakku. Kata kakakku biarlah kak Ita melanjutkan sekolah ke kota asalnya. Bunda menyetujuinya akhirnya bunda, kak Ita dan abang ipar ku berangkat ke kota abang dan kak Ita sekolah di sana.

Tapi diluar dugaan sepulang bunda, kak Ita tidak sekolah. Namun biaya untuk sekolah tetap dikirim tiap bulannya. Sewaktu waktu ayahku datang kekota B ( ke rumah paman) dan ayahku mengajak paman ke tempat kakakku tinggal, Di sana ayahku sangat kaget dan marah karena melihat kakakku dikurung disebuah kamar kost dalam keadaan sakit. Kata ibu kos sudah beberapa hari kakak ku dikurung di kamar dan tidak dikasih makan. Paman ku marah besar dan dicarinya kakak ipar dan dihajar sampe babak belur. Setelah itu kakak ku dinaikkan ke bus dan dibawa pulang ke kota B. Setelah dan sudah agak sembuh kakakku dibawa pulang kekampung.

Bunda masih ingin kakak ku menjadi orang. Kakak ku disekolahkan kembali ke kota M. Di sana kakakku sekolah SMA dan dia tinggal di tempat saudara. Tetapi kakakku memang orangnya tidak tau diuntung dan tidak tau berterima kasih, sudah begitu baik bunda tetap saja membuat bunda kecewa. Sekolah di kota M juga tidak membuahkan hasil. Akhirnya bunda memutuskan kakakku dibawa pulang kembali. Bunda sudah pasrah dan putus asa. Bapakpun (suami bunda) sudah tidak berdaya lagi (bangkrut), karena bapak jatuh sakit.

Giliran aku tamat SMP, aku tidak bisa sekolah yang macam-macam, karena bunda sudah tidak sanggup membiayainya. Aku bilang sama bunda “oh bunda kenapa nggak aku yang duluan lahir, kenapa harus kak Ita?. Bundapun menangis dan kedua orang tuaku pun menangis. Jangan putus asa, aku diberangkatkan juga ke kota B (kota B adalah kota pelajar dan juga kota impian setiap orang di kampung). Untuk melanjutkan sekolah, aku juga punya abang yang sekolah di STM. beliaulah yang menyekolahkan aku sampai di SMA, karena abangku itu harus membiayai hidupnya sendiri dan punya hobby merantau.

Sewaktu aku di kota B, kak Ita di kampung sudah kerja di Asuransi. Katanya untuk menghilangkan stress. Tapi selama bekerja di Asuransi itu kembali dia membuat masalah-masalah baru, seperti memakan uang setoran nasabah, hingga bunda harus merelakan anting-antingnya untuk membayar uang itu. Hingga pada akhirnya kak Ita kemudian kembali berkenalan dengan seorang laki-laki yang asalnya tak jauh dari kampung mantan suaminya yang dulu.

Sebenarnya orang tua kami dan bunda tidak setuju dengan hubungan kak Ita dengan laki-laki itu. Tapi kak Ita bersikeras mau menikah dengan abang itu (sebut saja namanya Dedi). Tapi setelah menikah, malu lagi yang kami tanggung. Karena bang Dedi pernah menikahi keponakan mamak. Tetapi bang Dedi tidak diterima lagi oleh istrinya itu, dengan alasan bang Dedi itu pemalas. Dan kenyataannya memang betul begitu. Setelah menikah bang Dedi tidak mau tinggal di kota kami, dengan alasan mamaknya sudah tua dan tinggal sendirian di kampung. Lalu dia pulang ke kampung dan meninggalkan kak Ita. Sepeninggalnya bang Dedi, kak ita hamil. Sampai hari kelahiran bayinya, bang Dedi tidak pernah pulang. Kira-kira anaknya berumur 8 bulan, barulah kemudian dia kembali dan tanpa membawa apa-apa. Sewaktu dia pamit ingin kembali ke kampung, kak Ita minta ikut suaminya ke kampung. Setelah kak Ita pergi, bunda selalu teringat pada kak Ita dan anaknya. Bundapun memutuskan untuk mencari kak Ita dan bunda singgah ke kotaku dan mengajak aku ikut mencari. Waktu itu aku sudah kelas II SMU.

Sesampainya kami disana, kami kembali kecewa. Ternyata kak Ita tidak berada di rumah. Dia baru saja bertengkar dengan suaminya dan dia lari dari rumahnya. Malam itu kami mencari dia kesana-kemari, akhirnya kamipun menemukannya. Kami pulang kembali ke kota B dan membawa kak Ita dan anaknya ikut bersama kami juga. Kata bang Dedi, kalau kak Ita pergi boleh saja, dan bang Dedi akan menyusul belakangan.

Akhirnya kak Ita pulang ke kampung, dan tidak pernah mau kembali ke kota bang Dedi. Sedangkan bang Dedi tidak mau menetap di kampng kami. Akhirnya mereka hidup terpisah. Setahun sekali bang Dedi pulang, sebulan di kampung lalu kembali lagi ke kotanya. Kak ita yang ditinggalkan hamil lagi, begitu seterusnya hingga kakak ku mempunyai anak 4 orang. Abang-abang mulai hilang kesabaran, waktu bang dedi pulang lagi, abang yang tua memanggil bang Dedi dan meminta penjelasan, kata abang, kalau terus-menerus begini, lebih baik ceraikan saja kak Ita, coba pembaca bayangkan sudah mempunyai 4 orang anak dia tidak mengirim uang sedikitpun, malah semuanya menjadi beban keluarga. Akhirnya kak Ita hidup dalam kesendirian dengan beban 4 orang anak.

Tahun 2005 bunda menunaikan ibadah Haji. Kak Ita tinggal dengan anak-anak nya (di rumah bunda ). Tiba-tiba bang Dedi muncul, tapi dia tidak ke rumah. Dia singgah di rumah kepala desa. Dia menyuruh orang untuk memanggil anak-anaknya. Dia mengajak anak-anaknya untuk ikut ke kotanya. Dan hanya satu orang anaknya yang mau ikut bersamanya. Selama dua hari di sana, diapun kembali. Dia bercerita bahwa “ Ayahnya mengumpulkan semua anak- anaknya dari 4 orang istrinya yang lain. Kak Ita sangat terpukul, karena sekian lama bang Dedi menipu dirinya. Tidak berapa lama terdengar khabar bang Dedi meninggal dunia karena sakit.

Sekarang ini kak Ita harus bekerja untuk menghidupi 4 orng anak nya. Anak yang yatim itu masih dalam pendidikan (SMA, SMP, dan SD). Kak Ita menangisi nasibnya, dia sangat menyesal, karena tidak mmendengar nasehat bunda. Nasi sudah menjadi bubur, bundapun sudah tua. Kak Ita hanya mampu menangis, menangis dan menangis. Seperti kata pepatah “Penyesalan selalu datangnya terlambat”.

Comments (0)
Only registered users can write comments!