PENTINGNYA DUKUNGAN KALA MELAHIRKAN
Oleh: Rukayyah
KPUK Bunga Anggrek-Mon Jambee, Bireuen
Saya adalah seorang ibu yang sudah mempunyai 4 orang anak. Berarti sudah empat kali saya melahirkan. Selama proses persalinan itu, banyak pengalaman yang saya dapatkan. Kendatipun sudah 4 kali saya melahirkan, saya tetap merasa sakitnya sewaktu melahirkan. Pengalaman pertama adalah ketika saya melahirkan anak yang pertama. Saya hamil yang pertama kali pada usia yang sangat muda yaitu pada usia 17 tahun. Karena usia saya yang masih muda, orang rua saya selalu membimbing saya untuk selalu memeriksakan kandungan saya mulai dari bulan pertama sampai 9 bulan. Saya selalu datang ke BKIA tiap bulan dan diperiksa dengan baik serta mendapatkan suntikan TT.
Ketika persalinan, saya melahirkan, saya tidak melahirkannya di klinik persalnian. Tetapi persalinan berlangsung di rumah dan ditemani oleh seorang dukun beranak. Ia seorang dukun yang baik dan ia adalah nenek saya sendiri. Syukur Alhamdulillah, saya melahirkan dengan lancar dan tak ada gangguan apapun.
Kira-kira setahun kemudian, saya mulai hamil lagi mengandung anak yang kedua. Pada masa kehamilan yang kedua ini, tidak sama seperti kala saya mengandung anak yang pertama. Bedanya, kala itu, saya tidak pernah memeriksakan kehamilan sampai datang waktu melahirkan. Hal ini disebabkan oleh keadaan yang tidak rukun dalam rumah tangga. Kondisi ini membawa pengaruh ketika saya melahirkan anak yang kedua.
Betapa tersiksanya hati saya saat melahirkan anak yang kedua itu. Tubuh saya terasa sangat lemah. Saya benar-benar tidak kuat. Dalam keadaan yang lemah seperti itu, saya tidak melahirkan di kilinik bersalin ataupun di puskemas/ rumah sakit. Persalinan saya hanya dibantu oleh dukun bersalin (dukun kampung). Hampir sepuluh jam saya merasa sakit. Saya mulai merasa sakit dari pukul 23.00 malam sampai jam 13.00 esok siangnya. Apa yang terjadi saat itu, saya sempat hilang ingatan. Itu terjadi karena ketuban pecah dini. Ini saya rasakan karena saya membiarkan diri saya hamil tanpa ada rawatan yang optimal, hinggapun terbawa kepada bayi yang saya lahirkan itu begitu kurus dan kering, dan pada usia delapan bulan ia meninggal dunia. Untunglah kemudian,Saya dibawa ke dokter. Berkat pertolongan dokter, saya dapat berobat hingga sembuh.
Lima tahun berselang, saya hamil lagi. Ya melahirkan anak yang ketiga. Pengalaman melahirkan anak kedua, telah membuat saya sadar. Saya sudah sadar dengan apa yang dikatakan oleh orang tua saya, jagalah kehamilanmu, periksa diri. Maka, saya selalu ke dokter. Bukan hanya dokter, tetapi juga bidan dan dukun. Ketiga-tiganya saya temui kapan saja saya inginkan dan tidak lupa dengan imunisasi, suntikan TT pula. Saya melahirkan di rumah, juga ditemani oleh dukun dan bidan desa atau bides. Alhamdulillah di saat saya melahirkan tidak ada gangguan apapun begitu juga dengan anak yang keempat. Anak yang saya lahirkan juga sehat wal afiat, walau berat bayinya seberat 4 (empat) kg. Bagi saya melahirkan itu sangatlah susah, kalau dipikirkan walaupun saya didampingi oleh dokter, bidan atau dukun, tetap saja lama benar. Saya selalu lemah, muntah terus-terusan dan tidak ada nafsu makan, ya lama begitulah keadaannya selama hamil dan melahirkan.
Saat ini, di desa saya pelayanan kesehatan di masyarakat bisa dikatakan baik, karena sekarang di desa kami ada POLINDES yang dijaga oleh Bides. Semua ibu hamil dipanggil tiap bulan untuk diperiksa kehamilan. Diberi vitamin, imunisasi, dan suntikan tetanus. Mungkin karena saat ini sedang banyak bantuan.
Namun, kalau melahirkan di desa, selalu didampingi oleh dukun bersalin, karena bagi kami di desa, dukun bersalin adalah seorang figur masyarakat yang dihormati. Dukun yang dianggap dapat menolong persalinan bahkan mungkin dapat mengobati segala macam penyakit yang berhubungan dengan persalinan.
Kami bersyukur karean dukun bersalin selalu setia dalam mendampingi ibu-ibu yang melahirkan. Dia selalu memijat dan merawat bayi sampai benar-benar sehat. Setahu saya di desa kami tidak ada ibu yang meninggal dunia karena melahirkan. Entah karena ibu-ibu selalu cepat dapat pertolongan kerumah sakit (rujukan) dan di operasi. Di desa saya kematian saat melahirkan tidak ada, walaupun ibu-ibu di desa melahirkan di rumah dengan bantuan dukun bersalin. Tetapi antara dukun dengan bidan di desa selalu menyatu satu sama lain. Dan oleh bidan kami dukun bersalin sangat dihormati. Itu semua dilakukan demi keselamatan ibu dan anak. Karena kalau ada tanda-tanda bahaya mereka sama-sama merujuk ke Puskesmas. Itulah kerjasama yang saya dapatkan di desa kami antara dukun bersalin, bidan desa, polindes dan puskesmas, itu semua demi keselamatan ibu dan bayinya.[]






















